(CSH Poetry Award 2010-2011)
Anugerah Puisi CSH 2010-2011 mengundang para penyair Indonesia mengirimkan buku kumpulan puisi mereka dalam bahasa Indonesia yang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011, untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011.
Bertindak sebagai juri untuk Anugerah Puisi CSH 2010-2011 adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Cecep Syamsul Hari.
Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri yang disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri serta tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.
Beberapa ketentuan Anugerah Puisi CSH 2010-2011:
1. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). Anugerah Puisi CSH 2010-2011 tertutup bagi juri.
2. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.
3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) sepanjang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011.
4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) diterima paling lambat 1 Februari 2012, dikirimkan melalui pos ke: ANUGERAH PUISI CSH 2010-2011, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.
5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi.
6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 dan berhak sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 akan diumumkan pada bulan Mei 2012 melalui website: http://cecepsyamsulhari.webs.com, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
Cimahi, Februari 2011
Cecep Syamsul Hari
KOMUNITAS HOME POETRY, lahir di gang baru, 5 Januari 2007, yang lalu. Pada sebuah rumah mungil, yang kemudian kami sebut dengan rumah puisi. Awalnya, hanya sebuah kerja penciptaan karya puisi, diskusi pun mengulasnya. Tidak mengenal lelah dan resah. Terkadang kami tembus ruang dan waktu. paGi ke pagi. Ah, di rumahnya Kami, RUMAH PUISI
Arsip Blog
- Mei (9)
- Maret (1)
- Desember (3)
- November (2)
- April (1)
- April (1)
- Maret (19)
- Februari (2)
- Juli (3)
- Oktober (5)
- Januari (2)
- September (1)
- Agustus (1)
- Juni (3)
- April (2)
- Desember (3)
- Juni (1)
- Mei (1)
- Maret (2)
- Februari (2)
- Januari (1)
- Desember (1)
- Agustus (5)
- Juli (5)
- April (1)
- Maret (2)
- Februari (1)
- November (7)
- Juli (1)
- Juli (4)
- Juni (3)
- Mei (16)
- April (9)
- Maret (26)
- Februari (14)
Selasa, 18 Januari 2011
Senin, 20 Desember 2010
GELISAH SENJA*
Bunda Djibril;
senja mulai tetaskan gelisah, akh retak merajam jembanku, dan aku terhenyak menyentuh hatiku sendiri
Muktir Rahman Syaf;
hingga kubagan jiwa makin dalam perihnya. dan aku tersungkur pada peradaban birahi yang menelan senja itu sampai mati
Bunda Djibril;
setelah aku mati,apa akan kau cari birahi yang lain di ujung-ujung senja yang sepi, lalu kembali menelannya sampai mati?
aku tak ingin mengerti bahwa arti mu adalah sebuah abadi
Muktir Rahman Syaf;
tak ada birahi yang bisa ku abadikan dalam diri
setelah penelanjangan dalam sunyi
karena hanya satu senja di musim sekali semi
Bunda Djibril;
dan senja itu mungkin bukan aku saja, hanya jelmaan jingga yang mantap duduk di sisi jendela, lantas malam berhianat, dan memancungnya di tengah bulan , hingga pelataran kamar tak kunjung berarah, gelap membara dan puing laknat tak berkesudahaan selalu berkata cinta,...
Muktir Rahman Syaf;
karena itulah aku menjelma siang
agar aku bisa menikmati senja sebelum malam tiba
dan malampun kuserahkan paksa
pada rembulan yang terus gerhana...
untuk kutunggu gembala cahaya lain
darinya
Bunda Djibril;
rembulan sedang mendustaimu sayang, dia saja berbisik padaku, wajah nya saja gerhana tapi hatinya setengah tengadah, dan tak ada yang bisa membca cahaya selain dia yang mengembalanya,..
sampai di padang manakah kita bertandang, apakah ada seseorang yang akan menghidangkan petang..
aku sudah lama tak mengunyahnya, aku jadi buas ingin melahapnya bulat-bulat.
mari kita berburu petang, sayang
Muktir Rahman Syaf;
kenapa harus berburu petang?
bukankah lahirku adalah petang
jadi, burulah diriku yang semakin gelap
menunggu senja tak kunjung datang
Bunda Djibril
apa umpan yang kau mau, sang perang?
Muktir Rahman Syaf;
kasih yang tak pernah hilang
Bunda Djibril;
kusiapkan di meja makan, mari... kita nikmati dulu lalu kita bercinta di tengah kota, biar seluruh priyayi saling iri, dan telanjangi diri mereka sndiri
Muktir Rahman Syaf;
kemudian bersama senja aku mati
*percakapan di facebook dengan Indah Zuhairani Siregar pada 01 Juni 2009
senja mulai tetaskan gelisah, akh retak merajam jembanku, dan aku terhenyak menyentuh hatiku sendiri
Muktir Rahman Syaf;
hingga kubagan jiwa makin dalam perihnya. dan aku tersungkur pada peradaban birahi yang menelan senja itu sampai mati
Bunda Djibril;
setelah aku mati,apa akan kau cari birahi yang lain di ujung-ujung senja yang sepi, lalu kembali menelannya sampai mati?
aku tak ingin mengerti bahwa arti mu adalah sebuah abadi
Muktir Rahman Syaf;
tak ada birahi yang bisa ku abadikan dalam diri
setelah penelanjangan dalam sunyi
karena hanya satu senja di musim sekali semi
Bunda Djibril;
dan senja itu mungkin bukan aku saja, hanya jelmaan jingga yang mantap duduk di sisi jendela, lantas malam berhianat, dan memancungnya di tengah bulan , hingga pelataran kamar tak kunjung berarah, gelap membara dan puing laknat tak berkesudahaan selalu berkata cinta,...
Muktir Rahman Syaf;
karena itulah aku menjelma siang
agar aku bisa menikmati senja sebelum malam tiba
dan malampun kuserahkan paksa
pada rembulan yang terus gerhana...
untuk kutunggu gembala cahaya lain
darinya
Bunda Djibril;
rembulan sedang mendustaimu sayang, dia saja berbisik padaku, wajah nya saja gerhana tapi hatinya setengah tengadah, dan tak ada yang bisa membca cahaya selain dia yang mengembalanya,..
sampai di padang manakah kita bertandang, apakah ada seseorang yang akan menghidangkan petang..
aku sudah lama tak mengunyahnya, aku jadi buas ingin melahapnya bulat-bulat.
mari kita berburu petang, sayang
Muktir Rahman Syaf;
kenapa harus berburu petang?
bukankah lahirku adalah petang
jadi, burulah diriku yang semakin gelap
menunggu senja tak kunjung datang
Bunda Djibril
apa umpan yang kau mau, sang perang?
Muktir Rahman Syaf;
kasih yang tak pernah hilang
Bunda Djibril;
kusiapkan di meja makan, mari... kita nikmati dulu lalu kita bercinta di tengah kota, biar seluruh priyayi saling iri, dan telanjangi diri mereka sndiri
Muktir Rahman Syaf;
kemudian bersama senja aku mati
*percakapan di facebook dengan Indah Zuhairani Siregar pada 01 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)