Di sini kubentangkan sajadah nasib
S. Ratman Suras
Di antara gerak dan guguran daun-daun kemarau
Dan musim basah bersemi ladang ini
Ada semerbak kamboja
Ilalang mengiris cuaca
Aku mekar mencium wangi matahari
Seperti selokan kecil
Di puncak bukit
Yang mencari laut muara segala hidup
Di sini aku terpeleset lumut basah
Yang memesrai batu-batu
Jiwaku terbanting
Koyak duka, kucaci maki nasib
Di dalam gebalai resah padang
Terasa sekali keterpencilan ini
Lalu kutemukan telaga
Kubasuh luka, kubasuh kaki
Kubentangkan sajadah hitam ini
Wahai puisi yang merintih
Aku ingin berzikir seperti angin
Aku ingin bersujud seperti batu-batu
Mekarku wangi bunga
Gugur pada bumi yang penuh cinta
Di sini pada puisi-puisi yang digerogoti sepi
Kubentangkan nasibku sendiri
Melepas doa airmata
M.Raudah Jambak
Sepeninggal tsunami
Kami rangkai doa airmata
Tanpa tabur bunga
Sepanjang ziarah, seluas samudera
Tetesnya tercipta
Menyentuh lembut pipi para bocah
Yang tengah menunggang cakrawala
Tetesnya tercipta
Melepas saudara-saudara kami
Yang tertimpa bencana
Tetesnya tercipta
Melepas busur zikir yang melesat
Meretas segala jarak
Dari banda sampai mandrehe
Dari kamala sampai berwala
Dari batin sampai perih mata
Sepeninggal tsunami
Kami lepas doa airmata
Tanpa tabur bunga
Kami hembuskan aroma surga jiwa
Buat saudara-saudara
Yang tertimpa bencana
Sepanjang ziarah, seluas samudera
Tentangmu aceh
Hasan Al Banna
Tentangmu aceh, sajakku adalah kata-kata yang terpana
Seperti mata yang hampa
Atau irama tak bernada
Tentangmu aceh, sajakku adalah makna-makna
Yang tergagap
Seperti tatap terkesiap
Atau langkah tak berderap
Tentangmu aceh, sajakku adalah deru atau bisu
Sembahyang Rumputan
Ahmadun Yosi Herfanda
Walau kau bungkam suara azan
Walau kau gusur rumah-rumah Tuhan
Aku rumputan takkan berhenti sembahyang
Inna sholati wanusuki
Wamahyaya wamamati
Lillahirabbilalamin
Topan menyapu luas padang
Tubuhku bergoyang-goyang
Tapi tetap teguh dalam sembahyang
Akarku yang mengurat di bumi
Tak berhenti mengucap shalawat Nabi
Sembahyangku sembahyang rerumputan
Sembahyang penyerahan jiwa dan badan
Yang berbaring di pangkuan Tuhan
Sembahyangku sembahyang rerumputan
Sembahyang penyerahan habis-habisan
Walau kau tebang
Aku akan tumbuh
Sebagai rumput baru
Walau kau bakar
Daun-daunku akan bersemi
Melebihi dulu
Aku rumputan
Kekasih Tuhan
Di kota-kota disingkirkan
Alam memeliharaku subur di hutan
Aku rumputan
Tak pernah lupa sembahyang
“sesungguhnya sholatku ibadahku
hidupku dan matiku
hanya bagi Allah Tuhan sekalian alam
Pada kambing dan kerbau
Daun-daun hijau kupersembahkan
Pada tanah akar kupertahankan
Agar tak kehilangan asal keberadaan
Di bumi terendah aku berada
Tapi dzikirku menggema
Menggetarkan jagad raya
Lailahailallahu
Muhammadurasulullah
Aku rumputan
Kekasih Tuhan
Seluruh gerakku
Adalah sembahyang
Padamu Jua
Amir Hamzah
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku …….
Langkah-langkah
M.Raudah Jambak
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal-gumpal
Menjadi seonggok awan hitam
Di antara mendung-mendung dan menjadi hujan
Dalam mataku
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa-bisa
Teriknya dan menusuk jantung-jantung
Hingga berdarah dan seketika detik-detik kematian
Menyelimuti jiwaku
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi lembah pada pabrik-pabrik kemaksiatan
Adalah bibit-bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi-nadi darahku
Melafazkan asma-Mu
Suara azan itu adalah langkah-langkah
Kakiku yang terseret
Satu-satu
Lagu Sederhana
Acep Zamzam Noer
Inilah lagu yang sederhana
Untuk-Mu
Denting-denting rawan
Jiwa yang melayang-layang
Inilah nada-nada guram
Kasih yang terpendam
Lirik-lirik lebam
Kehidupan yang bergoyang-goyang
Matahari yang kupandang saja
Sambil menimbang-nimbang
Mata-Mukah yang memandangku
Yang sejuk mengelus dan membakar sekaligus?
Sadar harus berdiri
Meskipun kaki selalu goyah
Sadar harus bernyanyi
Walau tak mampu meredakan gelisah
Inilah nyanyianku
Lagu yang sederhana
Denting-denting kerinduan
Dan harpa jiwa yang teramat lengang
Masihkah dunia bertahta di hati kita
Elidawani Lubis
Angin badai bermunajat hampiri senja
Kabarkan nestapa alam di pembaringannya
Yang semakin terhimpit bencana
Masih belum terlepas dekapan tsunami
Dalam kebekuan tangis yang melelah
Kini, lumpur panas pun meradang
Melepuhkan harapan dalam genangan doa
Gempa, banjir, longsor, gunung meletus
Juga turut mengintai nyawa
Masihkah dunia bertahta di hati kita?
Melihat laut diaduk badai
Menghantam kealpaan kita padanya
Gelegar halilintar memekakkan telinga semesta
Mencabik permadani alam dalam puing-puing sesal
Masihkah dunia bertahta di hati kita?
Dengarkanlah gema takbir-Nya
Tergugahlah wahai hati yang teringkus fananya dunia
Dengarkanlah gema takbir-Nya
Tergugahlah wahai iman yang lalai bersimpuh sujud pada-Nya
Bersegeralah bertasbih mengingat keagungan-Nya
Karena Dialah Allahushshomad
IGAUAN PERTIWI
Suyadi San
senyumlah, Anakku, tersenyum
kau lihatlah negerimu nyaris pecah berantakan
ladang-ladang telah dibanjiri kebusukan
badai sepanjang masa penyebabnya
kau lihatlah bintang-bintang terus tertutup awan
perpanjang derita negerimu setiap masa
esok, apabila kaulihat alam angkasa raya
katakan pada burung-burung bahwa tanah air kita
telah dijahili tangan-tangan tak berdosa
bahwa rumah kita belum dibentengi ketabahan
sehingga lambat laun terancam bencana
senyumlah, Anakku, tersenyum
jangan pandang pemimpinmu yang bermimpi kursi beludru
lihat, lihatlah di hari yang Fitri ini mereka masih saja
belum bisa menguntaikan senyum sepertimu
karena tak bisa mengatasi negerimu dari ancaman prahara
hutan-hutan terbakar,
ikan-ikan berhamburan tak tentu arah
gunung-gunung kehilangan panorama,
tinggal menunggu rata dengan tanah
air mengalir tak sederas Mahakam,
menjadikan sawah tak sesubur lautan Hindia
senyumlah, Anakku, tersenyum
Allah telah menegur negerimu dengan cukup sopan
dengan api peperangan yang terus membara
berbagai badai bencana alam dan topan
semua menjelma menjadi sebuah ketersiaan,
menjadi sebuah keterasingan di negeri sendiri,
akibat nafsu serakah yang menjuntai-juntai
tersenyumlah, Anakku, tersenyum
andai kau bisa tersenyum,
sadarilah bahwa sesungguhnya negeri ini
diciptakan memang untuk generasi sepertimu
jika badai tak juga redah, camkanlah
bahwa Allah beserta Malaikat-Nya
akan terus mengawasi perjalanan ciptaan-Nya
senyumlah, Anakku, tersenyum,
insyaallah Dia selalu bersamamu.
Menungkan nasib
J.E. Tatengkeng
Mengapa melati tak riang kembang
Sedang pagi disepuh embun
Mengapa gelatik melayang bimbang
Sedang padi kumpul bertimbun
Mengapa cemara nan kian tunduk
Sedang syamsu asyik melambai
Mengapa anak bermurung duduk
Adakah cita yang tak tercapai
Ah, Ibu
Apa melati kan riang kembang
Kalau kuntum rindu penanam
Apa hati kan riang senang
Teringat untung di masa benam
Tapi ibu
Ananda tidak memendam angan
Tidak piara sakit di hati
Selama kuat kaki dan tangan
Ku abdi ibu, ku sedia hati
Seratus Untai Biji Tasbih
M. Raudah Jambak
Telah kurangkai
Seratus untai biji tasbih
Mengurai asma-Mu
Dalam amalan
Dalam Illahi Anta Maksudi
Wa ridhaka Matlubi
Telah kurangkai
Seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai
Tapi gejolak jiwa ini
Tak mampu jua
Menampung tumpahan kerinduan
Yang membanjir air mata
Padahal telah kuarungi keluasan
Laut semesta-Mu
Padahal telah kukayuh sampan sajadahku
Menuju rahmat-Mu
Telah kurangkai
Seratus umtai biji tasbih
Bersama takbir
Bersama dzikir
Bersama air
Bersama semilir
Bersama musafir
Bersama fakir
Bersama Allah
Tanah airmata
Sutardji Calzoum Bachri
Tanah airmata tanah tumpah darahku
Mata air, airmata kami
Airmata, tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak ke mana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Ke manapun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Ke manapun terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Ke manapun berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa ke mana pergi
Menyerahkan pada kedalaman airmata kami
NYANYIAN ANAK KECIL
Suyadi San
Pak, belikan aku permen mainan
biar aku senang punya banyak kawan
Pak, belikan aku bulan mainan
biar kusuruh ombak bergurauan
Pak, nantikan aku di ujung zaman
biar aku selamat di tempat tujuan
Pak, songsongkan aku nyanyian malam
biar kutangisi baju ukhramku
Pak, tolong tanyakan pada sang awan
apakah aku bisa bertanya
mengapa bintang tak lagi
punya warna
Pak, ku ingin kemerdekaan
tanpa kawan dan ancaman
Pak, jangan biarkan aku berteman
nanti aku kehilangan
marwah yang diselipkan ibu
dalam pangkuan
Pak, biar kupanah saja kemajuan zaman
biar aku senang bermuram durja
Pak, kan kutanya lagi ke mana dikau
rindu kenangan masa silam
tertatih-tatih aku menyelusuri ombak
dipermainkan mabuk kemudharatan
Tak kan kutanya lagi ke mana dikau
sebab aku sudah cukup senang
keterasingan
Medan, 1991
SEBAB PAHLAWAN NAMAKU
M. Raudah Jambak
Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan
Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku
Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku
Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku
Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku
Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,
Maka pahlawan namaku
Bogor, 2008
KOMUNITAS HOME POETRY, lahir di gang baru, 5 Januari 2007, yang lalu. Pada sebuah rumah mungil, yang kemudian kami sebut dengan rumah puisi. Awalnya, hanya sebuah kerja penciptaan karya puisi, diskusi pun mengulasnya. Tidak mengenal lelah dan resah. Terkadang kami tembus ruang dan waktu. paGi ke pagi. Ah, di rumahnya Kami, RUMAH PUISI
Arsip Blog
- Mei (9)
- Maret (1)
- Desember (3)
- November (2)
- April (1)
- April (1)
- Maret (19)
- Februari (2)
- Juli (3)
- Oktober (5)
- Januari (2)
- September (1)
- Agustus (1)
- Juni (3)
- April (2)
- Desember (3)
- Juni (1)
- Mei (1)
- Maret (2)
- Februari (2)
- Januari (1)
- Desember (1)
- Agustus (5)
- Juli (5)
- April (1)
- Maret (2)
- Februari (1)
- November (7)
- Juli (1)
- Juli (4)
- Juni (3)
- Mei (16)
- April (9)
- Maret (26)
- Februari (14)
Jumat, 12 Februari 2010
Rabu, 18 November 2009
Biografi Chairil Anwar (1922 – 1949)
Biografi Chairil Anwar (1922 – 1949)
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
PUISI HARTA PINEM
NANDE GODA
Aku, Nande Goda
lahir dari rahim Gunung Sinabung
ibuku, petani kampung
ayahku, bekas pejuang revolusi berpangkat kopral
waktu Agresi Militer II aku dibawa ibu mengungsi ke hutan
tidur berselimutkan daun-daun
makananku keladi rebus dan singkong hutan
begitulah, aku dibesarkan ayah dan ibuku dengan sederhana
bermenukan cinta dan kasih sayang
di tengah saudara-saudaraku aku disebut perempuan binal
dan gampang memberontak
setelah remaja aku dijodohkan kedua orangtuaku
dengan seorang pria sesuku yang lugu dan baik hati
keluarganya masih punya hubungan darah dengan keluargaku
kata ibu beliau masih ipar dekatku dari garis keturunan ayah
aku tidak tahu inikah namanya cinta
namun satu persatu anakku berlahiran
mereka semua butuh belanja
aku tak punya keahlian
sedang ke ladang bukanlah kesukaanku
pening kepalaku berhadapan dengan cangkul dan matahari
akhirnya aku jadi berjualan sayur ke pekan-pekan
sedang suamiku jadi petani jeruk di kebun
pergi subuh pulang malam kini jadi jadwal rutin keseharianku
mula-mula biasa saja dan rezeki mengalir ke rumah tangga kami
lama-lama karena setiap hari bertemu
aku jatuh hati pada sopir langgananku
dia sudah beranak lima dan aku pun beranak banyak
tapi dalam bercinta kami merasa jadi muda kembali
seperti buah durian masak di pohon
bau aib itu akhirnya tercium juga oleh keluarga
balik ke rumah seperti pulang ke neraka
suami kurasa jadi musuh besar
sang pacar gelap menghasutku bertindak nekat habisi nyawa suami
biar bebas perjalanan berbuat jinah
aduh cintaku!
17 liang di dadanya cukuplah
kata orang aku bejat moral
tapi bagaimana, tindakanku sudah terlanjur basah
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan keji
begitu aku disuruh petugas berteriak
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan tega
begitu aku digelandang berkeliling kota
orang-orang menyambutku dengan wajah murka
sambil meludahi wajahku
mereka sebut aku perempuan binal tak beradat
tapi bagaimana, perbuatanku sudah telanjur basah
kini penjaralah tempatku mengadu paling baik
rumahtanggaku hancur karena permainan gila!
Aku Nande Goda !
kata orang masa depanku sehitam malam
aib akan berbuahkan aib
tapi jangan hakimi aku dengan pedang murka seumur hidup
medan, 2006
PUISI HIDAYAT BANJAR
KARBALA
Karbala, empat belas abad silam
hari ini terulang
beratus-ratus Hussein dibantai
padang yang kini jadi wilayah Irak itu
hadir di pelupuk mata kita
Kepala Hussein-hussein yang menjadi bola
memang tak ditendang ke Damaskus
tetapi menggelinding sendiri
ke dalam rumah kita
Karbala, empat belas abad silam
menjadi mimpi buruk anak-anak kita
yang setiap jam pelajaran di sekolah
mendapat ajaran Pancasila
Karbala, empat belas abad yang silam
jadi sejarah yang aneh bagi Islam
kita hanya terbengong-bengong
menyaksikan para Ali yang tak dapat menangis
karena kehabisan air mata
Sampit......Sampit........Sampit
Aceh.........Aceh...........Aceh...
adalah Islam yang terkoyak
Karbala, empat belas abad silam
kita seperti tak bersudara dengan para Ali
terpesona kemilau pedang Yazid
yang haus kekuasaan
yang haus syahwat
yang haus segala-galanya
berlindung AlQur’an dan Hadist
yang telah diputarbalikkan
Karbala, empat belas abad silam
kemilau pedang Yazid masih menari-nari
di depan mata kita
di negeri yang penuh pesona
negeri yang subur dan kaya
dengan jutaan hektar hutan, perkebunan dan laut
dengan jutaan ton tambang emas, minyak dan gas
yang dapat dikeruk sepanjang tahun
namun tak didistribusikan dengan adil
Karbala, empat belas abad silam
hadir kembali di sini
negeri nyiur melambai
negeri yang sepanjang tahun disiram cahaya matahari
namun masyarakatnya kekurangan energi
Karbala hadir di sini
dengan panji Muawiyah
dan kitapun terbengong-bengong
diam seribu bahasa
10 Muharram 1422 H
4 April 2001
PUISI S. RATMAN SURAS
BALADA MARNI GADIS TEMBUNG
Matanya redup adalah sayap burung yang lelah
setelah terbang melintasi tanah jaluran kuburan yang resah
berhari-hari menyulam kain lusuh
disengat matahari terpercik gerimis tipis
yang menderas menjadi badai tipis
Ia lahir dari jaman serba bingung
bapak ibunya jawa generasi terkini
kakek buyutnya korban kuli kontrak kompeni
diperas keringatnya menanam tembakau deli
sampai bercucu-cicit di tanah ini
Sepetak kolam kangkung di tepi desa Tembung
harapan keluarga agar asap dapur terus membubung
walau hasilnya cekak ditilep harga yang terus melambung
sedang bapaknya cuma kenek kuli bangunan
bersepeda pancal kota yang tak nyaman
Selepas SMP Marni memberontak, saat ia ingin membeli bedak
ingin berpatut-patut di depan cermin yang telah retak
merias diri, merawat raga, sebab si Sarmin anak tetangga
perjaka muda sering mencuri wajahnya, dari balik rimbunan pisang
di suatu siang, ketika angin mulai semilir mengalir
Jika berladang tak lagi memberi harapan
tanah-tanah kebun jadi rebutan dan hunian
kebutuhan hidup makin merenggut
Marni bingung tentukan tujuan
Bersama Jirah teman kecilnya
yang telah gemilang meraih bintang
ia terpikat langsung berangkat, jadi TKW ke negeri seberang
gadis lugu nan ayu yang masih segar
Ketika tiba-tiba di negeri singa, Marni terjebak hitamnya lumpur
ia tertipu sindikat gelap dipaksa jadi gadis penghibur
hatinya pedih tersayat-sayat, impiannya seketika hancur
pada saat yang mendebarkan, ketika tangan-tangan kuat dan kekar
mulai gerayangan di sekujur molek tubuhnya yang terkapar
Marni berontak mulut terkatup batin gemeretak
ia jadi gelap mata untuk mempertahankan mahkota sucinya
dipecahkannya sebuah botol minuman beralkohol
ditikamnya perut buncit toke asing berduit
darah segar muncrat menggenang di lantai kamar
Kini ia hidup heboh dalam cerita berita duka-lara
namanya menghias menyita media massa dua negara bertetangga
orang-orang saling lempar tentang kebenarannya
kerabat dan bapak-ibunya di Tembung berpayung langit murung
anak gadisnya terancam hukuman gantung
medan, 2005-2006
PUISI HASAN AL BANNA
BELAWAN, KISAH SEBINGKAH KOTA
/1/
laut keriput, terasa aroma garam masam
dan kecut
saksikan bahu laut lebam menanggungkan
riuh-lalang perjalanan
lalu udara yang bersiut
seperti serbuk-serbuk besi tua
berat dan berkarat
ke mana camar-camar terbang
sambil menyandang sebuntal luka?
aroma tuak
menjalar dari riuk-derak lapak
kerumun laki-laki bersuara teriak
bernyanyi sambil meletuskan gelak
lantas tergeletak
dan selalu, bait-bait lagu
terperangkap di lingkar gitar tua
mmh, para gelandangan dan orang gila
senantiasa gagal mendirikan rumah
ruko-ruko renta
hasil senggama cina dan belanda
berjejer berhadap-hadap di kerut kota
aha, remuk-muram itu rupa
seperti para perempuan yang sejak lampau
kehilangan meja rias
dan yang tak pernah mengenal lelaki
/2/
dermaga adalah tubuh yang geletar
tapi tetap setia pada janji: “hai, turunkan saja
debar jangkar ke dangkal darahku
sekali waktu, tanpa aba-aba
laut akan mengokang badai
o, kapal-kapal yang kuyup
kemari, kalian akan kurangkul!”
masih adakah dada-dada yang berdebar
mendengar terompet kapal yang parau?
tapi dari ringkih kapal
cuma satu dua turis yang turun melancong
menelusur jalanan usang
atau sekadar menyodorkan cibiran
“buah tangan apa yang pantas
ditukar dengan dolar? Dan kekaguman
macam apa yang musti kami decakkan?”
amboi, adakah laut umpama kekasih
yang enggan mengirim kado?
ah, samar suara mesin sampan pencari ikan
adalah hasrat yang sekarat
berkisah tentang birahi laut
yang senantiasa luput terpagut
atau seperti igau para nelayan:”Tuhan, hanya
tengkorak ikan
yang terjebak di cemas jala!”
/3/
ai, apa yang merayap meniru seok kelabang
adalah kereta api barang, menggendong
gerbong panjang
menafsir jarak antara datang dan pulang
roda dan rel bak dua kelamin besi
yang memintal rindu
tapi tak pernah memercikkan api cemburu
anak-anak teramat lihai menanggal seragam sekolah
bereklebat menjelma bajing
demi menaklukkan terik yang berkelok dan terjal
truk-truk bermesin raung, batuk-batuk
berpundak lapuk, bernapas engah
memanggul peti kemas demi peti kemas
menyeret beban tak berkesudahan
merontokkan pitam asap
dan merentang beribu kelambu debu
entahlah, hilir-mudik orang-orang
semacam bayangan kelam yang menyedihkan
nun, kuli-kuli bertubuh hangus
bersaku tandus
masih terlatih mengintai sekeping harapan
tapi, bah, para tukang pungli
seperti berpinak dari rahim tikus
rakus
kapan mereka mampus?
Belawan-Medan,2006-2008
PUISI MIHAR HARAHAP
OHAMI
Ohami Ohami
Ohami Ohami
Siapa anakku, siapa
Anakku permata bundamu jelita
Puah. Atas kuasamu purnama raya melata di akar rimba
tepian jurang perkampungan baru bukit tajam dan jembatan
layang di bawah kali curam terbentang, sementara para
satwa mengangkasa ke awan-awan ke bintang-bintang langit
yang paling jauh. Atas kuasamu segala apa di antaranya
menjadi sempurna. Puah. Puah
Di mana anakku, di mana
Anakku melayang bundamu kepayang
Puah. Gemuruh ombak pulang ke ombak gemuruh rasa pulang
ke rasa, gerimis hujan terik mentari adalah denyut
jantung anak kembara juga pulang ke asalnya. Duhai duli
sembah harap, terimalah wewangian zikir dan asap dupa
yang menggumpal-gumpal melingkar-lingkar menujumu,
menujumu. Puah. Puah.
Kembali anakku, kembali
Anakku sembunyi bundamu mencari
Puah. Antara langit putih berjenjang naik bumi hitam
bertangga turun payung biru kuncup kembang mengapung,
di mana kau singgahkan makna peradaban penghujung?
Antara gelisah burung kehilangan dahan akar pucuk bilah
hendak tinggi menyapu buih laut ke tepi ke tengah,
di mana kau beri ini hati pasrah? Di mana? Di mana?
Puah. Puah.
Ohami. Ohami
Ohami Ohami
Inilah malapetaka. Dalam kamar gelap pengap tanpa
pintu dan jendela, tiba-tiba waktu bagai hantu yang
tiada menjadi ada. Ada anjing mengejar mangsa jerit
melengking. Ada wanita diperkosa jerit
melengking. Ada hamba dibentak ditembak jerit melengking.
Dan pada suatu saat, mereka menghajarnya, menyeretnya
Dengan ganas ke tiang gantungan. Duh, betapa perihnya,
ketika mereka menutup matanya, menjerat lehernya dan
bersiap-siap menarik urat nafasnya, “Ohami, adalah serdadu
kuda diburu, ekornya benalu melilit tali teraju. Tarik !”
Anak langitku belahan bumi
Yang muaranya hitam putih
Dalam gelombang gelembung buih
Puah. Wahai angin laut angin gunung semesta yang agung
Atas segala kuasamu segala apa diantaranyamenjadi sempurna
Dimana kau singgahkan makna peradaban penghujung? Di mana
kau beri ini hati pasrah? Wahai, duli sembah harap,
terimalah wewangian zikir dan asap dupa yang menggumpal-
gumpal melingkar-lingkar menujumu, menujumu. Puah. Puah.
Anak langitku titisan matahari
Yang cahayanya kunang-kunang
Dalam pandang sebatas bayang
Inilah kesaksian anak negeri yang mati abadi dalam hidup
tak berpri. Sebab mereka kemudi adili keadilan bukan
dengan kebenaran di atas kebenaran. Sebab mereka kendali
bijaki kebijakan bukan dengan kebenaran di atas kebenaran
inilah kesaksian anak negeri yang tanpa batas perkara
berani menatap bahaya menantang segala nista
Sebab kami bangsa merdeka merdekakan bangsa dengan
kebenaran di atas kebenaran. Sebab kami bangsa budaya
budayakan bangsa dengan kebenaran di atas kebenaran
“Tuhan, Ohami adalah serumpun bunga matahari menghiasi
halaman rumah yang hari ini mati karena musim kemarau.”
Subhanallah Wabihamdihi
Subhanalllah Wabihamdihi
SAJAK M. RAUDAH JAMBAK
SUNGAI PENGEMIS
1.
Seorang pengemis duduk di pusat kota
menggenggam terompet yang dibuang
oleh pemiliknya. Jalanan mulai sunyi.
Seorang pengemis duduk di simpang kota
meniup terompet yang basah terimbas
air hujan. Suaranya tersekat.
Seorang pengemis duduk di tiang
lampu jalan raya yang mati arusnya,
pengendara satu-satu. Bibirnya membiru.
2.
Pada malam tahun baru ini, para pengemis
mengais rezeki dari sisa terompet yang ditinggalkan
para pejalan kaki. Hujan baru saja reda, meninggalkan
segala sisa.
sepanjang malam pengemis itu menahan
gigil tulang, memungut segala bekas di jalanan.
Pesta baru saja usai, menjejakkan segala mimpi
yang terburai.
Lalu perlahan ia pergi meninggalkan sisa nasib
yang tak sempat dikutip. Di simpang jalan,
lampu merah tak jua padam di antara langkah
yang tertahan
3.
dan perlahan suara malam senyap
meninabobokkan bulan di peraduan.
Suara terompet dan jerit petasan sedari
tadi telah dibungkam.
Menjelang pagi seorang pengemis
membangun kepingan mimpi. Bersama
tumpukan sisa hujan yang perlahan
meninggalkannya di sepanjang selokan
4.
Di antara pagi
Pengemis kecil duduk sendiri
Mendekap sisa hujan
Di dadanya
Sementara waktu terus berpacu
Kendaraan terus melaju
Satu per satu
Pengemis kecil duduk sendiri
menumpukkan sisa nasib
mengumpulkan kepingan mimpi
dalam nyenyak tidurnya
5.
Pulanglah, Dik
Tinggalkan segala tipu daya dunia yang membujukmu
Membawa kepada segala kenistaan
Dan persekongkolan
Debu dan asap knalpot yang memburumu adalah
Ular kepala dua yang siap membenamkan segala rindu
Di kepalamu yang murni
Pulanglah, Dik
Pulang. Masih ada esok yang akan menyulam
Wajah burammu menjadi senyuman
6.
Pengemis kecil bertubuh dekil
menyanyikan senandung sunyi
lagu dari segala kepedihan
Berhenti di traffic-light
Simpang jalan raya
Kencringan di tangan kanan
Merangkai harapan
Pengemis kecil bertubuh dekil
Menghalau masa lampau
Tentang bulan dan matahari
Terjebak arus pikiran belia
Yang terbang bersama debu
Sepanjang jalan raya
7.
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu rindu
Sisa mati lampu dan deru segala hujan
Entah tanggal yang ke berapa
Zikir mengalir
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu ragu
Pada pilu hati yang kuyu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
8.
Di jalan ini
Pasir menyisir pagi
Menyemai gigil kerikil
Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu
Tak berdaun dalam bangunan pikiran
Pada sudut rumah daun-daun berguguran
Bunga-bunga telahpun melayu
Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan
Di setiap titik peron-peron lengang
Dan daun-daun yang melayang berpeluh
Pada jejak-jejak perjalanan
9.
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengumpulkan sampah
Yang ditinggalkan peradaban kata-kata
Entah muntahan yang ke berapa
Serapah yang ia rasakan
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengutip sampah kata
Pada pilu hati yang kuyu, lugu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
MENYUSURI KOTA KOTA SUNGAI
1.
Menyusuri sungai, ketekketek bersin
Menggeram pada isak gemuruh mesin
riakriaknya menari pada perih segala sedih
rindu muara penawar tubuh segala ringkih
di gemuruh hati yang gaduh ada luka membawa cerita
di sepanjang alirannya ada sesuatu yang belum terbaca
tentang sebuah pemandian putriputri raja yang menari
melintasi perkampungan dan pabrikpabrik yang berdiri
bagai raksasa pada tepiannya, serta sejarah terkubur
yang tersusun sempurna menutupi kubangan lumpur
di bawah kayukayu penyangga dari kidung buaian
ah, apakah dayangdayang tengah menarikan tarian
selamat datang atau sekelebat ibuibu yang tengah mencuci
di depan jamban kayu sepanjang tepian perigi segala sepi
Eit, sepasang camar saling bertatap mesra, di atas sampan
yang melintas pelan. Wajah mereka terlihat kelelahan.
Angin berhembus sangat lamban mengantar ke sebuah kota
yang bernama kenangan setua usia benda-benda purbakala
Sambil meneguk setetes air membawa ingatan tertahan
dari sebuah perjalanan pergi dan kembali sebuah kenangan
sepanjang hari awan merangkak pelan
mengabarkan permulaan salam perjumpaan
2.
Menyusuri sungai, terbayang segala kenang
tongkang menerjang. Berlari kencang garang
Permukaannya membelah memberi jalan Musa
dari kejaran raja Fir'aun yang memendam luka
Pada peta hayalku yang aduh terdaftar ragam cinderamata
Serta hadiah perpisahan upah sebuah pelukan sepanjang kota
Warnanya menggambar sebuah kecemasan juga
rahasia yang belum sempat terpecahkan semesta
laksana kendaraan Musa, lajunya menikam-tikam
terjebak monopoli minyak Fir'aun sepenuh dendam
yang usianya melampaui batas keserakahan
tentang sebuah keimanan dan keyakinan
anak angkat kepada Tuhan yang terpendam nyaman
kerakusan ayah angkat yang ingin melampaui kekuasaan
saat gelombang terbawa pulang. Riaknya yang tenang
begitu meninabobokkan. Di depan terpampang kenang
sebuah kanvas perjalanan yang kita susuri
yang bergoyang kita seolah diajak menari
3.
Menyusuri sungai, pengeruk klutuk pasir menyisir
Laiknya seorang gadis yang menunggu penyair
permukaanya menggelombang sesekali
di tepiannya bocahbocah telanjang menari
Menyusuri sungai, kota-kota seolah menyendiri
Menyusuri sungai, kota-kota seperti sepi
SUARA MENYERUAK DARI DASAR SUNGAI
1.
pada aliran sungai bangkai melintasi bebatu
tak kuharap kau senandungkan debu-debu
pun mungkin ceracau bajaj yang berlari
hiruplah aroma kesumat birahi ini
di hirukpikuk pengendara
atau pengguna jalan raya
2.
disesaki asongan dan gelandang
kau bukanlah pemakaman tanpa kenang
hanya saja kau selalu hembuskan aroma bangkai pada air menggenang
aku haru pada pekat airmu, haru pada senandung lapar zikir terbuang
menarikan sampan sampah bersama goyang riak pelepah
yang menghanyutkan suara-suara dari mulut penuh serapah
3.
dan rauplah cuka
lalulalang aroma
segala pembusukkan
segala pembusukkan
2008
UJUNG PENA SUNGAI TINTA
1.
Sepenuh musim kugali kata dari ujung pena sungai tinta.
Sepanjang musim itu pula kusemai lembar kota,
menusuk--merasuk di rampak tik tak tik tak jarum jam
yang berdetak. Seutuh musim ke musim mewarta dendam
peta sengketa, menceracau bak pemabuk berdiplomasi.
Menguras sumur alkisah dengan segala menu basi,
berakhir suka atau duka. Seluas musim- musim melayarkan
perahu galau, pulau demi pulau, bersama kemudi kecemasan.
Menembus segala musim membebas ruang kuli tinta,
menggali sumur kata-kata pengab rahasia.
dan, di titik penentuan, beragam ujung pena-
musafir, mereguk cinta dari sumur kata-kata.
2.
Setelahnya prosesi sunyi. Kemudian kehadiranmu persis
sekadar kemunculan yang tak beraturan di setiap desis
Menunggumu pun tercipta ritual ujung pena.
sebuah pesta dari segala napas peristiwa
cahaya matahari menghadirkan madu makna
menetes dari mata air jiwa dan para kuli tinta
terus menguras sumur kata pada lembah segala wacana,
menyisir-ranjaunya di setiap titik perhentian langkah pena
Yang tertinggal mungkin tapak-tapak kaki juru bicara,
bertopengkan segala wawancara para dasamuka
Pun lenyapkan segala jejak tapak-tapak para musafir gagak
yang berwajah kuda berbulu serigala. Lesapkan segala gerak
3.
langkah yang mengonak Pada tubuh, peluh mulai terasa
membasuh lesatkan aroma sesak segala muak ke udara.
Lalu orkestra zaman menggumuli musim berkali,
meninabobokkan sepenuh istirah. Lalu sunyi,
lalu sepi, menutup diri. Bibirpun meloncatkan segala
rahasia sumur kata, ladang menggemuruh-hutan belantara
Para pemburu sempat kehilangan panah dan busurnya,
memburu di setiap perhentian kata menggumulinya
untuk kemudian dilahirkan pada cerita
gerbang penghabisan para jagal maupun casanova.
Pada ujung pena kuli tinta menggali sumur kata-kata.
Ada mata air yang terus melimpahkan peristiwa.
4.
Pada limpahan peristiwa, orasi kata menghambur makna.
Sumur kata-kata adalah petanya. Menetapkan warta
Kita pun dapat memahat atau mengukir wajah kita,
mengukur seberapa bersihnya. Di pisau bedah, kata
Juru bicara pun mengukir abadi rasa, membulat harap
pada keyakinan menyimpannya-menumpuk dekap
di etalase kaca bersama sekumpulan perompak yang lupa
membajak, ketika kita membaca rahasia cuaca.
Cermin-cermin retak merupakan sekumpulan arak-arakan
yang melontar, menghunus, menghujat dan meninabobokkan
Yakinku mewarna rindu, bersimpul pena, para kuli tinta
Dengan ujung pena, para kuli tinta menggali sumur kata-kata,
Mewarta segala peristiwa.
Mewarta segala cuaca
2008
DOA SUNGAI KESEPIAN
1.
Di dalam ruang dadaku ada irama degup
yang menarikan jantung dengan irama tertahan.
Mendesah seperti tangkai ranting patah.
Irama itu kadang naik-kadang turun
menembus lorong-lorong di ujung telinga
mengiringi larik terakhir sebelum senandung
yang lesap terbawa angin.
Irama itu berhamburan pada sesak irama
pada degup dada yang menembus lorong
di ujung telinga yang berseberangan. Ada
isak yang mendesak butir embun jatuh
pada lembar waktu dan cucaca.
Lalu suhu udara yang berbeda membawa
irama itu seolah nyanyian nina-bobo yang
akan mengantarkanmu pada alam, alam
yang sulit kau baca.
Dan akhirnya seperti yang telah kau duga
sebelumnya irama itu adalah lagu
dengan irama tembang kenangan
sebagai sebuah salam perpisahan.
2.
Aku tersedak dadaku menafsirkan detak
seluruh irama dari degup yang berbeda
menyatukan irama debar pada tembang
yang hampir tak terbaca
Aku tersedak merindukan lagu sukacita
memenuhi segala rasa bahagia yang pernah
dipenuhi irama dari degup yang tertahan. Dan
aku ingin membisikkan sesuatu, tapi irama
kelumu menghardik harapku,
aku ingin membisikkan ke telingamu, tapi
mulutku begitu kaku.
Aku hilang suara. Aku hilang cahaya.
3.
Tubuhku tak berasa, udara dingin yang kau
kabarkan seperti sekawanan daun
yang gugur ke bumi.
udara dingin itu melahirkan beribu gunung es
di sekujur tubuhku, menutupi rongga pori kulitku
yang pernah mengalirkan ribuan sungai-sungai kecil
tempat para nelayan menebarkan jala untuk menangkap
ikan-ikan kecil yang pernah kau pelihara.
Lalu bongkahan es itu perlahan mencair
Dihancurkan ceracau kemarau yang menghambur
Dari mulutmu. Laut matamu membuncah.
Sungai-sungaimu pecah. Irama lain memainkan
sendiri nadanya dari degup yang lain. Menghantarkan
suara lain ke langit yang lain. Membawa cahaya
yang lain ke negeri yang lain.
Entahlah, aku tak tahu apakah irama yang
lahir dari degupmu adalah doadoa sebagai
penghantar tidur abadiku. Atau doa-doaku
yang menghantarkannya pada degup isak
dari irama kebadian.
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
PUISI HARTA PINEM
NANDE GODA
Aku, Nande Goda
lahir dari rahim Gunung Sinabung
ibuku, petani kampung
ayahku, bekas pejuang revolusi berpangkat kopral
waktu Agresi Militer II aku dibawa ibu mengungsi ke hutan
tidur berselimutkan daun-daun
makananku keladi rebus dan singkong hutan
begitulah, aku dibesarkan ayah dan ibuku dengan sederhana
bermenukan cinta dan kasih sayang
di tengah saudara-saudaraku aku disebut perempuan binal
dan gampang memberontak
setelah remaja aku dijodohkan kedua orangtuaku
dengan seorang pria sesuku yang lugu dan baik hati
keluarganya masih punya hubungan darah dengan keluargaku
kata ibu beliau masih ipar dekatku dari garis keturunan ayah
aku tidak tahu inikah namanya cinta
namun satu persatu anakku berlahiran
mereka semua butuh belanja
aku tak punya keahlian
sedang ke ladang bukanlah kesukaanku
pening kepalaku berhadapan dengan cangkul dan matahari
akhirnya aku jadi berjualan sayur ke pekan-pekan
sedang suamiku jadi petani jeruk di kebun
pergi subuh pulang malam kini jadi jadwal rutin keseharianku
mula-mula biasa saja dan rezeki mengalir ke rumah tangga kami
lama-lama karena setiap hari bertemu
aku jatuh hati pada sopir langgananku
dia sudah beranak lima dan aku pun beranak banyak
tapi dalam bercinta kami merasa jadi muda kembali
seperti buah durian masak di pohon
bau aib itu akhirnya tercium juga oleh keluarga
balik ke rumah seperti pulang ke neraka
suami kurasa jadi musuh besar
sang pacar gelap menghasutku bertindak nekat habisi nyawa suami
biar bebas perjalanan berbuat jinah
aduh cintaku!
17 liang di dadanya cukuplah
kata orang aku bejat moral
tapi bagaimana, tindakanku sudah terlanjur basah
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan keji
begitu aku disuruh petugas berteriak
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan tega
begitu aku digelandang berkeliling kota
orang-orang menyambutku dengan wajah murka
sambil meludahi wajahku
mereka sebut aku perempuan binal tak beradat
tapi bagaimana, perbuatanku sudah telanjur basah
kini penjaralah tempatku mengadu paling baik
rumahtanggaku hancur karena permainan gila!
Aku Nande Goda !
kata orang masa depanku sehitam malam
aib akan berbuahkan aib
tapi jangan hakimi aku dengan pedang murka seumur hidup
medan, 2006
PUISI HIDAYAT BANJAR
KARBALA
Karbala, empat belas abad silam
hari ini terulang
beratus-ratus Hussein dibantai
padang yang kini jadi wilayah Irak itu
hadir di pelupuk mata kita
Kepala Hussein-hussein yang menjadi bola
memang tak ditendang ke Damaskus
tetapi menggelinding sendiri
ke dalam rumah kita
Karbala, empat belas abad silam
menjadi mimpi buruk anak-anak kita
yang setiap jam pelajaran di sekolah
mendapat ajaran Pancasila
Karbala, empat belas abad yang silam
jadi sejarah yang aneh bagi Islam
kita hanya terbengong-bengong
menyaksikan para Ali yang tak dapat menangis
karena kehabisan air mata
Sampit......Sampit........Sampit
Aceh.........Aceh...........Aceh...
adalah Islam yang terkoyak
Karbala, empat belas abad silam
kita seperti tak bersudara dengan para Ali
terpesona kemilau pedang Yazid
yang haus kekuasaan
yang haus syahwat
yang haus segala-galanya
berlindung AlQur’an dan Hadist
yang telah diputarbalikkan
Karbala, empat belas abad silam
kemilau pedang Yazid masih menari-nari
di depan mata kita
di negeri yang penuh pesona
negeri yang subur dan kaya
dengan jutaan hektar hutan, perkebunan dan laut
dengan jutaan ton tambang emas, minyak dan gas
yang dapat dikeruk sepanjang tahun
namun tak didistribusikan dengan adil
Karbala, empat belas abad silam
hadir kembali di sini
negeri nyiur melambai
negeri yang sepanjang tahun disiram cahaya matahari
namun masyarakatnya kekurangan energi
Karbala hadir di sini
dengan panji Muawiyah
dan kitapun terbengong-bengong
diam seribu bahasa
10 Muharram 1422 H
4 April 2001
PUISI S. RATMAN SURAS
BALADA MARNI GADIS TEMBUNG
Matanya redup adalah sayap burung yang lelah
setelah terbang melintasi tanah jaluran kuburan yang resah
berhari-hari menyulam kain lusuh
disengat matahari terpercik gerimis tipis
yang menderas menjadi badai tipis
Ia lahir dari jaman serba bingung
bapak ibunya jawa generasi terkini
kakek buyutnya korban kuli kontrak kompeni
diperas keringatnya menanam tembakau deli
sampai bercucu-cicit di tanah ini
Sepetak kolam kangkung di tepi desa Tembung
harapan keluarga agar asap dapur terus membubung
walau hasilnya cekak ditilep harga yang terus melambung
sedang bapaknya cuma kenek kuli bangunan
bersepeda pancal kota yang tak nyaman
Selepas SMP Marni memberontak, saat ia ingin membeli bedak
ingin berpatut-patut di depan cermin yang telah retak
merias diri, merawat raga, sebab si Sarmin anak tetangga
perjaka muda sering mencuri wajahnya, dari balik rimbunan pisang
di suatu siang, ketika angin mulai semilir mengalir
Jika berladang tak lagi memberi harapan
tanah-tanah kebun jadi rebutan dan hunian
kebutuhan hidup makin merenggut
Marni bingung tentukan tujuan
Bersama Jirah teman kecilnya
yang telah gemilang meraih bintang
ia terpikat langsung berangkat, jadi TKW ke negeri seberang
gadis lugu nan ayu yang masih segar
Ketika tiba-tiba di negeri singa, Marni terjebak hitamnya lumpur
ia tertipu sindikat gelap dipaksa jadi gadis penghibur
hatinya pedih tersayat-sayat, impiannya seketika hancur
pada saat yang mendebarkan, ketika tangan-tangan kuat dan kekar
mulai gerayangan di sekujur molek tubuhnya yang terkapar
Marni berontak mulut terkatup batin gemeretak
ia jadi gelap mata untuk mempertahankan mahkota sucinya
dipecahkannya sebuah botol minuman beralkohol
ditikamnya perut buncit toke asing berduit
darah segar muncrat menggenang di lantai kamar
Kini ia hidup heboh dalam cerita berita duka-lara
namanya menghias menyita media massa dua negara bertetangga
orang-orang saling lempar tentang kebenarannya
kerabat dan bapak-ibunya di Tembung berpayung langit murung
anak gadisnya terancam hukuman gantung
medan, 2005-2006
PUISI HASAN AL BANNA
BELAWAN, KISAH SEBINGKAH KOTA
/1/
laut keriput, terasa aroma garam masam
dan kecut
saksikan bahu laut lebam menanggungkan
riuh-lalang perjalanan
lalu udara yang bersiut
seperti serbuk-serbuk besi tua
berat dan berkarat
ke mana camar-camar terbang
sambil menyandang sebuntal luka?
aroma tuak
menjalar dari riuk-derak lapak
kerumun laki-laki bersuara teriak
bernyanyi sambil meletuskan gelak
lantas tergeletak
dan selalu, bait-bait lagu
terperangkap di lingkar gitar tua
mmh, para gelandangan dan orang gila
senantiasa gagal mendirikan rumah
ruko-ruko renta
hasil senggama cina dan belanda
berjejer berhadap-hadap di kerut kota
aha, remuk-muram itu rupa
seperti para perempuan yang sejak lampau
kehilangan meja rias
dan yang tak pernah mengenal lelaki
/2/
dermaga adalah tubuh yang geletar
tapi tetap setia pada janji: “hai, turunkan saja
debar jangkar ke dangkal darahku
sekali waktu, tanpa aba-aba
laut akan mengokang badai
o, kapal-kapal yang kuyup
kemari, kalian akan kurangkul!”
masih adakah dada-dada yang berdebar
mendengar terompet kapal yang parau?
tapi dari ringkih kapal
cuma satu dua turis yang turun melancong
menelusur jalanan usang
atau sekadar menyodorkan cibiran
“buah tangan apa yang pantas
ditukar dengan dolar? Dan kekaguman
macam apa yang musti kami decakkan?”
amboi, adakah laut umpama kekasih
yang enggan mengirim kado?
ah, samar suara mesin sampan pencari ikan
adalah hasrat yang sekarat
berkisah tentang birahi laut
yang senantiasa luput terpagut
atau seperti igau para nelayan:”Tuhan, hanya
tengkorak ikan
yang terjebak di cemas jala!”
/3/
ai, apa yang merayap meniru seok kelabang
adalah kereta api barang, menggendong
gerbong panjang
menafsir jarak antara datang dan pulang
roda dan rel bak dua kelamin besi
yang memintal rindu
tapi tak pernah memercikkan api cemburu
anak-anak teramat lihai menanggal seragam sekolah
bereklebat menjelma bajing
demi menaklukkan terik yang berkelok dan terjal
truk-truk bermesin raung, batuk-batuk
berpundak lapuk, bernapas engah
memanggul peti kemas demi peti kemas
menyeret beban tak berkesudahan
merontokkan pitam asap
dan merentang beribu kelambu debu
entahlah, hilir-mudik orang-orang
semacam bayangan kelam yang menyedihkan
nun, kuli-kuli bertubuh hangus
bersaku tandus
masih terlatih mengintai sekeping harapan
tapi, bah, para tukang pungli
seperti berpinak dari rahim tikus
rakus
kapan mereka mampus?
Belawan-Medan,2006-2008
PUISI MIHAR HARAHAP
OHAMI
Ohami Ohami
Ohami Ohami
Siapa anakku, siapa
Anakku permata bundamu jelita
Puah. Atas kuasamu purnama raya melata di akar rimba
tepian jurang perkampungan baru bukit tajam dan jembatan
layang di bawah kali curam terbentang, sementara para
satwa mengangkasa ke awan-awan ke bintang-bintang langit
yang paling jauh. Atas kuasamu segala apa di antaranya
menjadi sempurna. Puah. Puah
Di mana anakku, di mana
Anakku melayang bundamu kepayang
Puah. Gemuruh ombak pulang ke ombak gemuruh rasa pulang
ke rasa, gerimis hujan terik mentari adalah denyut
jantung anak kembara juga pulang ke asalnya. Duhai duli
sembah harap, terimalah wewangian zikir dan asap dupa
yang menggumpal-gumpal melingkar-lingkar menujumu,
menujumu. Puah. Puah.
Kembali anakku, kembali
Anakku sembunyi bundamu mencari
Puah. Antara langit putih berjenjang naik bumi hitam
bertangga turun payung biru kuncup kembang mengapung,
di mana kau singgahkan makna peradaban penghujung?
Antara gelisah burung kehilangan dahan akar pucuk bilah
hendak tinggi menyapu buih laut ke tepi ke tengah,
di mana kau beri ini hati pasrah? Di mana? Di mana?
Puah. Puah.
Ohami. Ohami
Ohami Ohami
Inilah malapetaka. Dalam kamar gelap pengap tanpa
pintu dan jendela, tiba-tiba waktu bagai hantu yang
tiada menjadi ada. Ada anjing mengejar mangsa jerit
melengking. Ada wanita diperkosa jerit
melengking. Ada hamba dibentak ditembak jerit melengking.
Dan pada suatu saat, mereka menghajarnya, menyeretnya
Dengan ganas ke tiang gantungan. Duh, betapa perihnya,
ketika mereka menutup matanya, menjerat lehernya dan
bersiap-siap menarik urat nafasnya, “Ohami, adalah serdadu
kuda diburu, ekornya benalu melilit tali teraju. Tarik !”
Anak langitku belahan bumi
Yang muaranya hitam putih
Dalam gelombang gelembung buih
Puah. Wahai angin laut angin gunung semesta yang agung
Atas segala kuasamu segala apa diantaranyamenjadi sempurna
Dimana kau singgahkan makna peradaban penghujung? Di mana
kau beri ini hati pasrah? Wahai, duli sembah harap,
terimalah wewangian zikir dan asap dupa yang menggumpal-
gumpal melingkar-lingkar menujumu, menujumu. Puah. Puah.
Anak langitku titisan matahari
Yang cahayanya kunang-kunang
Dalam pandang sebatas bayang
Inilah kesaksian anak negeri yang mati abadi dalam hidup
tak berpri. Sebab mereka kemudi adili keadilan bukan
dengan kebenaran di atas kebenaran. Sebab mereka kendali
bijaki kebijakan bukan dengan kebenaran di atas kebenaran
inilah kesaksian anak negeri yang tanpa batas perkara
berani menatap bahaya menantang segala nista
Sebab kami bangsa merdeka merdekakan bangsa dengan
kebenaran di atas kebenaran. Sebab kami bangsa budaya
budayakan bangsa dengan kebenaran di atas kebenaran
“Tuhan, Ohami adalah serumpun bunga matahari menghiasi
halaman rumah yang hari ini mati karena musim kemarau.”
Subhanallah Wabihamdihi
Subhanalllah Wabihamdihi
SAJAK M. RAUDAH JAMBAK
SUNGAI PENGEMIS
1.
Seorang pengemis duduk di pusat kota
menggenggam terompet yang dibuang
oleh pemiliknya. Jalanan mulai sunyi.
Seorang pengemis duduk di simpang kota
meniup terompet yang basah terimbas
air hujan. Suaranya tersekat.
Seorang pengemis duduk di tiang
lampu jalan raya yang mati arusnya,
pengendara satu-satu. Bibirnya membiru.
2.
Pada malam tahun baru ini, para pengemis
mengais rezeki dari sisa terompet yang ditinggalkan
para pejalan kaki. Hujan baru saja reda, meninggalkan
segala sisa.
sepanjang malam pengemis itu menahan
gigil tulang, memungut segala bekas di jalanan.
Pesta baru saja usai, menjejakkan segala mimpi
yang terburai.
Lalu perlahan ia pergi meninggalkan sisa nasib
yang tak sempat dikutip. Di simpang jalan,
lampu merah tak jua padam di antara langkah
yang tertahan
3.
dan perlahan suara malam senyap
meninabobokkan bulan di peraduan.
Suara terompet dan jerit petasan sedari
tadi telah dibungkam.
Menjelang pagi seorang pengemis
membangun kepingan mimpi. Bersama
tumpukan sisa hujan yang perlahan
meninggalkannya di sepanjang selokan
4.
Di antara pagi
Pengemis kecil duduk sendiri
Mendekap sisa hujan
Di dadanya
Sementara waktu terus berpacu
Kendaraan terus melaju
Satu per satu
Pengemis kecil duduk sendiri
menumpukkan sisa nasib
mengumpulkan kepingan mimpi
dalam nyenyak tidurnya
5.
Pulanglah, Dik
Tinggalkan segala tipu daya dunia yang membujukmu
Membawa kepada segala kenistaan
Dan persekongkolan
Debu dan asap knalpot yang memburumu adalah
Ular kepala dua yang siap membenamkan segala rindu
Di kepalamu yang murni
Pulanglah, Dik
Pulang. Masih ada esok yang akan menyulam
Wajah burammu menjadi senyuman
6.
Pengemis kecil bertubuh dekil
menyanyikan senandung sunyi
lagu dari segala kepedihan
Berhenti di traffic-light
Simpang jalan raya
Kencringan di tangan kanan
Merangkai harapan
Pengemis kecil bertubuh dekil
Menghalau masa lampau
Tentang bulan dan matahari
Terjebak arus pikiran belia
Yang terbang bersama debu
Sepanjang jalan raya
7.
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu rindu
Sisa mati lampu dan deru segala hujan
Entah tanggal yang ke berapa
Zikir mengalir
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu ragu
Pada pilu hati yang kuyu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
8.
Di jalan ini
Pasir menyisir pagi
Menyemai gigil kerikil
Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu
Tak berdaun dalam bangunan pikiran
Pada sudut rumah daun-daun berguguran
Bunga-bunga telahpun melayu
Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan
Di setiap titik peron-peron lengang
Dan daun-daun yang melayang berpeluh
Pada jejak-jejak perjalanan
9.
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengumpulkan sampah
Yang ditinggalkan peradaban kata-kata
Entah muntahan yang ke berapa
Serapah yang ia rasakan
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengutip sampah kata
Pada pilu hati yang kuyu, lugu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
MENYUSURI KOTA KOTA SUNGAI
1.
Menyusuri sungai, ketekketek bersin
Menggeram pada isak gemuruh mesin
riakriaknya menari pada perih segala sedih
rindu muara penawar tubuh segala ringkih
di gemuruh hati yang gaduh ada luka membawa cerita
di sepanjang alirannya ada sesuatu yang belum terbaca
tentang sebuah pemandian putriputri raja yang menari
melintasi perkampungan dan pabrikpabrik yang berdiri
bagai raksasa pada tepiannya, serta sejarah terkubur
yang tersusun sempurna menutupi kubangan lumpur
di bawah kayukayu penyangga dari kidung buaian
ah, apakah dayangdayang tengah menarikan tarian
selamat datang atau sekelebat ibuibu yang tengah mencuci
di depan jamban kayu sepanjang tepian perigi segala sepi
Eit, sepasang camar saling bertatap mesra, di atas sampan
yang melintas pelan. Wajah mereka terlihat kelelahan.
Angin berhembus sangat lamban mengantar ke sebuah kota
yang bernama kenangan setua usia benda-benda purbakala
Sambil meneguk setetes air membawa ingatan tertahan
dari sebuah perjalanan pergi dan kembali sebuah kenangan
sepanjang hari awan merangkak pelan
mengabarkan permulaan salam perjumpaan
2.
Menyusuri sungai, terbayang segala kenang
tongkang menerjang. Berlari kencang garang
Permukaannya membelah memberi jalan Musa
dari kejaran raja Fir'aun yang memendam luka
Pada peta hayalku yang aduh terdaftar ragam cinderamata
Serta hadiah perpisahan upah sebuah pelukan sepanjang kota
Warnanya menggambar sebuah kecemasan juga
rahasia yang belum sempat terpecahkan semesta
laksana kendaraan Musa, lajunya menikam-tikam
terjebak monopoli minyak Fir'aun sepenuh dendam
yang usianya melampaui batas keserakahan
tentang sebuah keimanan dan keyakinan
anak angkat kepada Tuhan yang terpendam nyaman
kerakusan ayah angkat yang ingin melampaui kekuasaan
saat gelombang terbawa pulang. Riaknya yang tenang
begitu meninabobokkan. Di depan terpampang kenang
sebuah kanvas perjalanan yang kita susuri
yang bergoyang kita seolah diajak menari
3.
Menyusuri sungai, pengeruk klutuk pasir menyisir
Laiknya seorang gadis yang menunggu penyair
permukaanya menggelombang sesekali
di tepiannya bocahbocah telanjang menari
Menyusuri sungai, kota-kota seolah menyendiri
Menyusuri sungai, kota-kota seperti sepi
SUARA MENYERUAK DARI DASAR SUNGAI
1.
pada aliran sungai bangkai melintasi bebatu
tak kuharap kau senandungkan debu-debu
pun mungkin ceracau bajaj yang berlari
hiruplah aroma kesumat birahi ini
di hirukpikuk pengendara
atau pengguna jalan raya
2.
disesaki asongan dan gelandang
kau bukanlah pemakaman tanpa kenang
hanya saja kau selalu hembuskan aroma bangkai pada air menggenang
aku haru pada pekat airmu, haru pada senandung lapar zikir terbuang
menarikan sampan sampah bersama goyang riak pelepah
yang menghanyutkan suara-suara dari mulut penuh serapah
3.
dan rauplah cuka
lalulalang aroma
segala pembusukkan
segala pembusukkan
2008
UJUNG PENA SUNGAI TINTA
1.
Sepenuh musim kugali kata dari ujung pena sungai tinta.
Sepanjang musim itu pula kusemai lembar kota,
menusuk--merasuk di rampak tik tak tik tak jarum jam
yang berdetak. Seutuh musim ke musim mewarta dendam
peta sengketa, menceracau bak pemabuk berdiplomasi.
Menguras sumur alkisah dengan segala menu basi,
berakhir suka atau duka. Seluas musim- musim melayarkan
perahu galau, pulau demi pulau, bersama kemudi kecemasan.
Menembus segala musim membebas ruang kuli tinta,
menggali sumur kata-kata pengab rahasia.
dan, di titik penentuan, beragam ujung pena-
musafir, mereguk cinta dari sumur kata-kata.
2.
Setelahnya prosesi sunyi. Kemudian kehadiranmu persis
sekadar kemunculan yang tak beraturan di setiap desis
Menunggumu pun tercipta ritual ujung pena.
sebuah pesta dari segala napas peristiwa
cahaya matahari menghadirkan madu makna
menetes dari mata air jiwa dan para kuli tinta
terus menguras sumur kata pada lembah segala wacana,
menyisir-ranjaunya di setiap titik perhentian langkah pena
Yang tertinggal mungkin tapak-tapak kaki juru bicara,
bertopengkan segala wawancara para dasamuka
Pun lenyapkan segala jejak tapak-tapak para musafir gagak
yang berwajah kuda berbulu serigala. Lesapkan segala gerak
3.
langkah yang mengonak Pada tubuh, peluh mulai terasa
membasuh lesatkan aroma sesak segala muak ke udara.
Lalu orkestra zaman menggumuli musim berkali,
meninabobokkan sepenuh istirah. Lalu sunyi,
lalu sepi, menutup diri. Bibirpun meloncatkan segala
rahasia sumur kata, ladang menggemuruh-hutan belantara
Para pemburu sempat kehilangan panah dan busurnya,
memburu di setiap perhentian kata menggumulinya
untuk kemudian dilahirkan pada cerita
gerbang penghabisan para jagal maupun casanova.
Pada ujung pena kuli tinta menggali sumur kata-kata.
Ada mata air yang terus melimpahkan peristiwa.
4.
Pada limpahan peristiwa, orasi kata menghambur makna.
Sumur kata-kata adalah petanya. Menetapkan warta
Kita pun dapat memahat atau mengukir wajah kita,
mengukur seberapa bersihnya. Di pisau bedah, kata
Juru bicara pun mengukir abadi rasa, membulat harap
pada keyakinan menyimpannya-menumpuk dekap
di etalase kaca bersama sekumpulan perompak yang lupa
membajak, ketika kita membaca rahasia cuaca.
Cermin-cermin retak merupakan sekumpulan arak-arakan
yang melontar, menghunus, menghujat dan meninabobokkan
Yakinku mewarna rindu, bersimpul pena, para kuli tinta
Dengan ujung pena, para kuli tinta menggali sumur kata-kata,
Mewarta segala peristiwa.
Mewarta segala cuaca
2008
DOA SUNGAI KESEPIAN
1.
Di dalam ruang dadaku ada irama degup
yang menarikan jantung dengan irama tertahan.
Mendesah seperti tangkai ranting patah.
Irama itu kadang naik-kadang turun
menembus lorong-lorong di ujung telinga
mengiringi larik terakhir sebelum senandung
yang lesap terbawa angin.
Irama itu berhamburan pada sesak irama
pada degup dada yang menembus lorong
di ujung telinga yang berseberangan. Ada
isak yang mendesak butir embun jatuh
pada lembar waktu dan cucaca.
Lalu suhu udara yang berbeda membawa
irama itu seolah nyanyian nina-bobo yang
akan mengantarkanmu pada alam, alam
yang sulit kau baca.
Dan akhirnya seperti yang telah kau duga
sebelumnya irama itu adalah lagu
dengan irama tembang kenangan
sebagai sebuah salam perpisahan.
2.
Aku tersedak dadaku menafsirkan detak
seluruh irama dari degup yang berbeda
menyatukan irama debar pada tembang
yang hampir tak terbaca
Aku tersedak merindukan lagu sukacita
memenuhi segala rasa bahagia yang pernah
dipenuhi irama dari degup yang tertahan. Dan
aku ingin membisikkan sesuatu, tapi irama
kelumu menghardik harapku,
aku ingin membisikkan ke telingamu, tapi
mulutku begitu kaku.
Aku hilang suara. Aku hilang cahaya.
3.
Tubuhku tak berasa, udara dingin yang kau
kabarkan seperti sekawanan daun
yang gugur ke bumi.
udara dingin itu melahirkan beribu gunung es
di sekujur tubuhku, menutupi rongga pori kulitku
yang pernah mengalirkan ribuan sungai-sungai kecil
tempat para nelayan menebarkan jala untuk menangkap
ikan-ikan kecil yang pernah kau pelihara.
Lalu bongkahan es itu perlahan mencair
Dihancurkan ceracau kemarau yang menghambur
Dari mulutmu. Laut matamu membuncah.
Sungai-sungaimu pecah. Irama lain memainkan
sendiri nadanya dari degup yang lain. Menghantarkan
suara lain ke langit yang lain. Membawa cahaya
yang lain ke negeri yang lain.
Entahlah, aku tak tahu apakah irama yang
lahir dari degupmu adalah doadoa sebagai
penghantar tidur abadiku. Atau doa-doaku
yang menghantarkannya pada degup isak
dari irama kebadian.
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED
Langganan:
Postingan (Atom)