Arsip Blog

Minggu, 20 Mei 2018

Hasil Kurasi Tugu Sastra Siantar Temu Penyair Nusantara 2018

Akhirnya setelah melewati Pebruari, dengan semangat komunal dilandasi pada silaturahmi, kecintaan pada literasi khususnya puisi dan mengingat tahapan proses telah terkumpulnya lebih dari 300-an puisi mengenai kota Pematangsiantar.

Puisi-puisi yang telah dikirim ratusan penyair dari penjuru nusantara, dalam tempo hanya sekitar 3 minggu sejak diumumkan hajatan hingga deadline ternyata cukup disambut antusias oleh kalangan kawan dan para sahabat penyair. Perkenankanlah kami Komunitas Tugu sastra Siantar, yang masih belia ini tuk mengatur tabik dan ribuan terima kasih atas segala kontribusi dan partisipasi.

Bahwa sejak 28 Pebruari 2018 adalah tenggat deadline pengiriman, kini saatnya Tim kurator cq Panitia dari Komunitas Tugu, sastra Siantar mengumumkan hasil kurasinya. Semoga, buku antologi ini bisa kita luncurkan pada salah satu konten acara yang akan kita selenggarakan di kota Siantar, Parapat dan pulau Samosir.

Kami mengucapkan selamat dan tetap menyala-nyala bagi semua sahabat, sampai jumpa pada Temu Penyair Nusantara, 12-14 April 2018.

Hasil Kurasi Puisi Pematangsiantar
1. Agung Wicaksana ( Surabaya ) – Di Sepanjang Pematang, Beribu Kasih Kuutarakan Kepadamu
2. Alda Muhsi ( Medan) – Menerawang Kenang
3. Aloeth Phati ( Pati ) – Pematangsiantar Kota Kenangan
4. Annisa Tri Sari ( Medan) ¬– Pertemuan Hujan
5. Arbi Tanjung ( Bukit Tinggi) – Tercecer Kisah Ruas Jalan Medan – Padang
6. Asqo L Fatir ( Banten )- Berkata, Becak Siantar
7. Ayu Harahap ( Medan) – Yang Pergi di Karang Anyer
8. Bambang Kariyawan ( Riau ) – Mengakhiri Tanda
9. Bambang Widiatmoko ( Bekasi ) – Meminang Pematangsiantar
10. Biolen Fernando Sinaga ( Medan ) – (Pe)matang(s)ian(ta)r
11. Budhi Setyawan (Purworejo) – Becak Siantar
12. Dedy Tri Riyadi ( Jakarta ) – Diajak Sajak ke Pajak Horas
13. Defriansyah Putra ( Batu Sangkar) – Menjemput Tubuh
14. Dellorie Ahada Nakatama ( Payakumbuh ) – Menepis Batas
15. Dewi Mulkhaida Ningsih ( Pekanbaru ) – Pertemuan
16. Dewi Sartika ( Kediri ) – Sejumput Surat Untukmu Dari Siantar
17. Edrida Pulungan ( Jakarta ) – Meneguk Senja di Kotamu Yang Terlupa, dan Horja
18. Eko Ragil ( Pekanbaru ) – Kitab Perjalanan III
19. Endut Ahadiat ( Padang ) – Siantar Kota Kedua
20. Emi Suy ( Jakarta ) – Mengantar Rindu Ke Siantar
21. Erwan Juhara ( Bandung ) Pematang Siantar
22. Ewith Bahar ( Jakarta ) – Perempuan Bolon di Pematang Purba
23. Fachrul Roza ( Pematangsiantar ) – Kok Tong
24. Fileski ( Surabaya ) – Pertemuan di Siantar
25. Fitria Panjang ( Medan ) – Kedai Kopi Kok Tong, Malam Ini
26. Harkoni Madura ( Bangkalan ) – Reportase Pematangsiantar
27. Hartinah Ahmad ( Singapura ) – Pematangsiantar
28. Heri Purwanto ( Pangandaran ) – Di Siantar Aku Mencinta
29. Hermawan ( Rokan Hulu, Riau ) – Mutiara dari Siantar
30. Ibnu Khalid ( Pekanbaru ) – Holong
31. Ida Fitri( Biereuen, Aceh ) – Ulos Siantar
32. Idris Siregar ( Deli Serdang ) – Demi Pematangsiantar Berpijar
33. Ihsan Subhan ( Cianjur ) – Memorabilia Isi Kota
34. Imam Rosyadi ( Sumenep ) – Di Air Terjun Katasa
35. Itov Sakha ( Pematangsiantar ) - Piss, Pajak Horas Siattar
36. Jayu Marsius ( Bengkulu ) – Di Dangau
37. John Siregar ( Medan ) – Setelah Jembatan Ini
38. Julaiha Sembiring ( Medan ) – Risalah Lelaki dan Tubuh Masa Lalu
39. Julia Hartini ( Bandung ) – Menunaikan Gegas
40. Jumari HS ( Kudus ) – Tenun Ulos
41. Khanafi ( Banyumas ) – Tembang Pematangsiantar
42. Kunni Masrohanti ( Pekanbaru ) – Siantar Hingga Puan Bolon yang Malang
43. Kurnia Effendi ( Jakarta ) – Sebelum Sampai Toba, dan Het Juliana Hotel
44. LK Ara ( Aceh ) – Jalan Terhampar
45. L Surijaya ( Yogyakarta ) – Di dalam Lautmu, Laika
46. Maringan Manik ( Pematangsiantar ) – 128 km Medan, 50 km Danau Toba
47. Marsten L. Tarigan ( Pematangsiantar ) – Pulang Ingatan ke Siantar
48. Maulana Satrya Maulana ( Medan ) – Jorlang Hataran
49. Maulidan Rahman Siregar ( Padang ) – Kuantar Hesti ke Pematangsiantar
50. Mezra E. Pellondou ( Kupang ) – Siantar
51. Mosthamir Thalib ( Riau ) – Bung Siantar dan Kenen Husen Dan A Seng
52. Muhammad Asqalani ( Pekanbaru ) - Cerita Sebelum Sampai Kita ke Jalan Sudirman No. 20
53. Muhammad Daffa ( Surabaya ) – Tualang Si Anak Rantau
54. Muhammad de Putra ( Riau ) – Tuak
55. Muhammad Raudah Jambak ( Medan ) – Balada Perempuan Penari yang Kehilangan Gemulai Tubuhnya, dan Bah Butong
56. Nermi Silaban ( Yogyakarta ) – Dari Tambo Buah Anggir
57. Niken Kinanti ( Bandung ) – Umbul Manigom
58. Ni Wayan Idayati ( Bali ) – Pertempuran
59. Norazimah Abu Bakar ( Kuala Lumpur ) – Semanis Teh dan Senyum Gadis
60. Nuriyah Widi ( Kulonprogo ) – Membaca Pesan Rindu di Bawah Langit Pematangsiantar
61. Nurul Maulida Anwar ( Tanjungbalai ) – Di Kota yang Ingin Kutemui
62. Okta Piliang ( Payakumbuh ) – Motor Penumpang, dan Pikat Pitunang
63. Pommpy Ceisar Sihotang ( Jakarta ) – Juli 1947
64. Pretty Purnamasari ( Pekanbaru ) – Amang Tua Dan Bentor di Pematangsiantar
65. Pusva Devi ( Pekanbaru ) – Dondang Ratap Omak
66. Qal Sangkawa ( Lampung ) – Mengulang Sesabit di Langit
67. Riki Utomi ( Pekanbaru ) – Mengikat Kenangan dalam Becak Siantar
68. Rinidiyanti Ayahbi ( Jakarta ) – Lilitan Kenang Pematangsiantar
69. Risca Nanda Fontia ( Aceh ) – Bah Biak
70. Riski Andika ( Karawang ) – Anggraininim
71. Roymon Lemosol ( Maluku ) – Melati dari Perut Bidadari
72. Salman Yoga S ( Takengon ) – Pengantin di Kedai Kopi Kok Tong
73. Sartika Sari ( Medan ) – Di Jantong Kebon, Kami Berdiang, Menjadi Tulang Asap
74. Saut Situmorang ( Yogyakarta ) – Andung-Andung Petualang, dan Samosir
75. Sri Rm Simanungkalit ( Samosir ) – Sajak Cinta di Atas Tao
76. Sunaryo JW ( Padangsidempuan ) – Besar di Negeri Tiri
77. Syarifuddin Arifin ( Padang ) – Di Pematang Aku Berdiri
78. Syarwan Hamid ( Pekanbaru ) – Sang Nawaluh Masih dalam Ingata
79. Titan Sadewo ( Medan ) – Merindui Pematangsiantar
80. Ubai Dillah Al Anshori ( Pematangsiantar ) – Puisi Menjalari Pematangsiantar
81. Uki Bayu Sedjati ( Tangerang ) – Pematangsiantar
82. Ummi Risa ( Bekasi ) – Kesaksian Pematangsiantar
83. Wayan Jengki Sunarta ( Denpasar ) – Bayangkan Sebuah Kota Tanpa Senyumanmu
84. Yana Risdiana ( Bandung ) – Tangkisan Waktu
85. Yanu Isti ( Jakarta ) – Di Pematangsiantar Hatiku Bersangkar
86. Ylalali ( Surabaya ) – Sejumput Surat Untukmu dari Siantar
87. Yulia Tasnim ( Medan ) – Menuju Ibu
88. Zulhamus Syafira ( Yogyakarta ) – Kenangan Runcing Melukaiku
89. Zuliana Ibrahim ( Takengon ) – Mencari Kabar dari Pematangsiantar


Sebanyak 200 Puisi Lolos Kurasi Temu Penyair Asia Tenggara 2018

PADANG PANJANG (Litera.co.id) – Temu Penyair Asia Tenggara 2018 yang akan berlangsung di Padang Panjang pada 3-6 Mei 2018 mendatang telah mengumpulkan sebanyak 610 naskah puisi dari 610 penyair Indonesia. Partisipasi juga datang dari penyair-penyair Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, Thailand dan Filipina.

Sejak diumumkan secara terbuka pada 3 Februari 2018 lalu, Tim Kurator yang terdiri dari Sulaiman Juned (Padang Panjang), Iyut Fitra (Payakumbuh) dan Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta) telah melakukan kerja kurasi yang ketat untuk memilih puisi-puisi terbaik yang akan dibukukan dan diluncurkan di perhelatan akbar itu.

Puisi-puisi yang lolos kurasi menjadi syarat kedatangan peserta Temu Penyair Asia Tenggara 2018 yang akan mengikuti sejumlah kegiatan, di antaranya: Seminar Sastra, Peluncuran Buku, Pembacaan Puisi di Situs-situs Sejarah, Malam Kesenian dan Wisata Kota Padang Panjang.

Pemerintah Kota Padang Panjang yang didukung Forum Pegiat Literasi (FPL) Padang Panjang memfasilitasi akomodasi dan konsumsi penyair selama acara berlangsung (biaya transportasi dari daerah asal pergi-pulang di luar tanggungan panitia). Peserta dimukimkan di rumah-rumah warga dan menikmati kuliner serta pertunjukan kesenian tradisi masyarakat Padang Panjang.

Usai bersidang dengan diskusi yang alot, Tim Kurator Temu Penyair Asia Tenggara akhirnya memutuskan memilih 200 puisi penyair Indonesia yang lolos kurasi sebagai berikut:

1. Akhmad Asy’ari, Sumenep (Padang Rindu)
2. Alek Wahyu Nurbista Lukmana, Padang (Untuk Ia yang Tengah Bercinta)
3. Ahmad Wayang, Banten (Apa yang Kau Tangkap dari Mataku)
4. Alfin Rizal, Yogyakarta (Tubuh yang Tumbuh Rahasia)
5. Ali Assegaf, Jakarta (Aku Akan Pulang)
6. Alexander Aur Apelaby, NTT (Merumah pada Hujan)
7. Arif Hukmi, Makassar (Suhu Udara)
8. Acep Syahril, Jawa Barat (Guru dan Geram Dingin)
9. Afry Adi Chandra, Surakarta (Sejak Tangkai-Tangkai Hujan Menyentuh Debar serta Bibir)
10. Agung Wicaksana, Jawa Timur (Surat Terakhir Syekh Haji Adam di Lereng Marapi)
11. Arif Purnama Putra, Pesisir Selatan (Musim di Kutub Yang Tiada Salju)
12. Andini Nafsika, Padang (Satu Hari dalam Sepekan)
13. Aan Hidayat, Lampung Barat (Rindu di Lembah Anai)
14. Ade Novi, Jakarta (Padang Panjang)
15. Abdul Aziz HM, Yogyakarta (Hujan Menari di Bumi Serambi Makkah)
16. Aflaha Rizal, Jakarta (Memeluk Kekasih Di Padang Panjang)
17. Anggi Putri, Surabaya (Sebelum Detak Jam)
18. Ariyosde, Padang (Serambi Kota Hujan)
19. Al-Izhar, NTT (Di Beranda Bandara)
20. Arco Transept, Jakarta (Hujan di Padang Panjang)
21. Afrion, Medan (Di antara rimbun daun, kicau burung, dan desir angin rintik hujan datang dari semesta)
22. Andi Jusiman, Makassar (Diantara Padang Panjang, dan Batas Kecantikanmu)
23. Arif Rahman Hakim, Padang Pariaman (Tabik Rinduku)
24. Asqo L. Fatir, Banten (Merindukan Kabut)
25. Anju Zasdar, Pekanbaru (Reportase Hujan)
26. Ariffin Noor Hasby, Banjarbaru (Nyanyian Gendang dari Padang Panjang)
27. Awaluddin Ishak, Aceh Tengah (Kampung Batu)
28. Arumida, Demak (Solang Selepas Hujan)
29. Aji Ramadhan, Surakarta (Ikan-Ikan Mengelilingi Hutan)
30. Alif Laminuwan Benzaitan, Banten (Sejak Perpisahan Pertama)
31. Aishah Basar, Rantau Prapat (Beri Aku Waktu)
32. Ainun Najib, Pinrang (Siang Di Jendela Perpustakaan Atau Tertidur)
33. Ayu Harahap, Medan (Puisi Ini Untukmu)
34. Badaruddin Amir, Sulawesi Selatan (Gerimis Padang Panjang)
35. Bambang Widiatmoko, Jakarta (Mantera Pemikat)
36. Budhi Setyawan, Jakarta (Semalam di Padangpanjang)
37. Boy Riza Utama, Pekanbaru (Sajak kepada Seorang Orang Tua yang Bertemu Syafruddin Prawiranegara)
38. Bayu Hartendi, Padang (Cahaya Zohal)
39. Bachtiar Luthfi, Tegal (Peniup Kehidupan pada Ruhku)
40. Badrul Munir Chair, Sumenep (Mengenang Hari Lalu)
41. Charles Patrick Maliando Nely, Makassar (Keindahan Alam Kota Kecil)
42. Cut Mirna Rita, Aceh Utara (Hidangan)
43. Dani Sukma AS, Medan (Di Kotamu Bahagia Jadi Ritual Paling Jantung)
44. DG. Kumarsana, Lombok Barat (Bulan, Mengambang di Malam Purnama)
45. Dewi Ariska Permata Sari, Jombang (Cerita Hari Ini)
46. Dian Rennuati, Palembang (Renjana)
47. Dewi Mulkhaida Ningsih, Pekanbaru (Kau dan Aku dalam Pengembaraan Rasa)
48. Daru Sima Suparman, Cilacap (Tandikat Tanah Datar)
49. Dafriansyah Putra, Batusangkar (Meneruka Jejak di Rumpun Sajak)
50. Dwi Agustini, Padang (Bias di Balik Kabut)
51. Dyah Ambar, Pekanbaru (Rindu yang Basah)
52. Dellorie Ahada, Payakumbuh (Sebelum Kepulangan)
53. Eddy Pranata PNP, Banyumas (Kabut Mengapung Kian Jingga)
54. Ewith Bahar, Jakarta (Hari Terakhir di Padang Panjang)
55. Evan Ys, Jakarta (Gelanggang yang Kutempuh)
56. Endut Ahadiat, Padang (Dinginnya Kota)
57. Emi Suy, Jakarta (Rumah Gadang Ingatan)
58. Eko Ragil Ar-Rahman, Pekanbaru (Kitab Perjalanan I)
59. Emil, Bogor (Resital Hujan dan Kabut)
60. Endiy S Johan, Sumenep (Hujan Kenangan)
61. Eri Syofratmin, Jambi (Prasasti)
62. Edy A Effendi, Jakarta (Di tepi Laut)
63. Erwan Juhara, Bandung (Hikayat Padang Panjang)
64. Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru (Kurindu Sejuk Gunung Hingga Malam-malam Memelukku Penuh Cumbu)
65. Fiky Indra Gunawan Saputra, Kalimantan Barat (Senja Selepas Hujan Di Pesona Puncak Silaing Indah)
66. F. Pratama, Tanjung Balai (Redum)
67. Fuadi, Padang (Padang Panjang, Sejarah dan Aku yang Rindu)
68. Fahmi Wahid, Kalimantan Selatan (Mozaik Padang Panjang)
69. Fitriawan Nur Indrianto, Payakumbuh (Mutiara Kasih, Basuo Bundo)
70. Fadila Hediaty Zahra, Sukabumi (Ziarah Kesejukan)
71. Fayentia, Batam (Dalam Hujan Usai Subuh)
72. Faiz Adittian, Purwokerto (Orang-Orang Bukit)
73. Feni Efendi, Payakumbuh (Menulis Peta di Ujung Selendang)
74. Fontiasca Aleazim Atj, Aceh Utara (Arloji Kematian)
75. Giovanni A.L Arum, Kupang (Puisi yang Keras Kepala Mencintaimu, Padang!)
76. Hikmat Gumelar, Bandung (Padang Panjang: Puisi Belaka)
77. Heri Isnaini, Subang (Karikatur Hujan)
78. Hermawan, Rokan Hulu (Hutan Kabut di Kaki Merapi)
79. Hudan Nur, Kalimantan Selatan (Epitaf Nagari Padang)
80. Irvan Mulyadie, Tasikmalaya (Verdant)
81. Irhyl R Makkatutu, Sulawesi Selatan (Yang Tiba di Pelukan)
82. Ilhamdi Putra, Padang (Menjemput Pulang)
83. Itov Sakha, Medan (Mengecuo Ibu)
84. Ihsan Subhan, Cianjur (Landaian Rindu)
85. Irna Novia Damayanti, Purbalingga (Ingin Kubuat Duniaku Sendiri)
86. Irfan Hasibuan, Medan (Ketika Tuhan Menciptakanmu)
87. Iskandar Muda, Gayo Lues (Aroma Rindu Padang Panjang)
88. Ira Esmiralda, Babel (Mintuo)
89. Padang Panjang (Imam Maarif, Jakarta)
90. Ibnu HS, Kabupaten Sukamara (Kita Bukan Tamu di Tanah Ini)
91. Jummita Sari, Padang (Melodi Hujan)
92. Julia Hartini, Bandung (Kabut yang Datang seperti Puisi)
93. Jumari HS, Kudus (Melidius Padang Panjang)
94. Julaiha Sembiring, Medan (Senandung Saluang di Dada Perantau)
95. Jasman Bandul, Riau (Padang Panjang, Kota Kecil Tuan Gadang)
96. Kurnia Effendi, Jakarta (Membayangkan Kota Hujan)
97. Kunni Masrohanti, Pekanbaru (Bintang di Kaki Marapi)
98. Kim Al Ghozali AM, Denpasar (Tamasya: Egypte van Andalas)
99. Kevin Khanza Jaelani, Pekanbaru (Dari Balik Punggung)
100. Kakanda Redi, Bali (Melawat ke Padang Panjang)
101. Khanafi, Purwokerto (Qasidah untuk Serambi Makkah)
102. Khoer Jurzani, Bogor (Kidung Padang Panjang)
103. L.K. Ara, Banda Aceh (Jàlan Berkabut)
104. Lintang Ismaya, Jakarta (Surat dari Mesir Van Andalas)
105. Laura Rafti, Riau (Akar Hujan)
106. Marhalim Zaini, Pekanbaru (Agama Kabut)
107. Muhammad Ibrahim Ilyas, Padang (Risaulai)
108. M. Raudah Jambak, Medan (Lengang Singgalang Lenggang Padang Panjang)
109. Muhammad de Putra, Pekanbaru (Meninggali Padang Panjang)
110. Mas Muhammad Idris, Yogyakarta (Tak Menyisakan Tempat Peraduan)
111. Mena Dewi Lestari, Garut (Puasa Merapal Doa)
112. Muhammad Ridlo, Bandung (Ruang Gadang)
113. Mukti Sutarman Espe, Kudus (Padang Panjang: Puisi yang Mengundang)
114. Mohamad Fauzi, Pemalang (Suluk Bumiku)
115. Muhammad Rifki, Jakarta (Pulangkan Aku ke Rahim Ibu)
116. Marfuah, Jakarta (Sang Pengelana Kisah di Awal Tahun)
117. Muhammad Irsyad Al-djaelani, Pekanbaru (Ambrosia Padang Savana)
118. M. Fitrah, Bandung (Lebuh Fajar)
119. Mustafa Ismail, Jakarta (Dari Didong Hingga Saluang)
120. Mona Lisa, Sumatera Selatan (Kehadiran)
121. Muhammad Abdurrachman, Sukabumi (Pulang)
122. Maria Ulfa D. P, Brebes (Sebuah Ingatan)
123. Muflih Helmi, Pekanbaru (Menjamumu di Padang Panjang, Sampai Daun Digugurkan Angin)
124. Mohamad Iskandar, Demak (Wasiat Tanah Cahaya)
125. Musyfiqur Rahman, Sumenep (Pendakian di Bawah Hujan)
126. Mezra E. Pellondou, NTT (Setangkai Egypte van Andalas)
127. Marsten L. Tarigan, Pematang Siantar (Pepatah Telah Berpihak)
128. Mohammad Arfani, Palembang (Tentang Perempuan Tua yang Tertegun di Depan Bangunan Tua Saoejah 1927)
129. Misbach Kherr, Sulawesi Selatan (Melukis Senja di Langit Padang Panjang)
130. Ni Wayan Idayati, Denpasar (Buat Ayah)
131. Nuning Kusumaning Palupi, Semarang (Eloknya Negeriku)
132. Nining Nur Hidayanti, Tuban (Agypte van Andalas (Padang Panjang): dari Pariaman ke Singgalang)
133. Neni Yulianti, Cirebon (Tamasya di Kedalaman Rahim Padang Panjang)
134. Novia Rika Perwitasari, Tangerang Selatan (Padang Panjang Nan Tenang)
135. Nila Hapsari, Bekasi (Di Bawah Jembatan Tinggi Silaiang)
136. Niken Kinanti, Bandung (Debar)
137. Nunung Noor El Niel, Bali (Adat Bersilang Berzanji)
138. Nurfadilah Amal, Makassar (Mekanisme Percaya)
139. Okta Piliang, Payakumbuh (Cerita Tua)
140. Putri Andini Agustin, Pekanbaru (Buat Perempuan di Pasar Usang)
141. Pusvi Defi, Pekanbaru (Rinjani)
142. Q Alsungkawa, Lampung (Ketika Hasrat Menjadi Puisi)
143. Roymon Lemosol, Maluku (PadangPanjang)
144. Redovan Jamil, Padang (Batipuh X Koto)
145. Rapina Semesta, Pekanbaru (Gerbong Kereta Tua)
146. Riri Satria, Jakarta (Antara Padang Panjang dan Bukittinggi)
147. Reky Arfal, Pekanbaru (Hujan Turun Merangkul Padang Panjang)
148. Rozali Jauhari Alfanani, Mataram (Bukan Bumi Biasa)
149. Rizqian Rahmatalla, Sumenep (Kausar)
150. Ramayani Riance, Jambi (Senarai Rindu)
151. Rezqie M. A. Atmanegara, Kalimantan Selatan (Mengaji Jejak Bumi Padang Panjang)
152. Rabiatul Hasanah Daulay, Pekanbaru (Kopi dan Bait-Bait Hujan di Gunung Singgalang)
153. RahmaYunita, Riau (Surga Sumatra)
154. Rio Rinaldi, Padang (Wahai, Adakah yang Tahu Dinginnya Hati Ini)
155. Sisi Rosida, Medan (Tubuh Pelaminan)
156. Syarifuddin Arifin, Padang (Daunan Tegak Diusap Embun)
157. Salman Yoga S., Aceh Tengah (Ber-Ibu kepada Hulu)
158. Setia Naka Andrian, Semarang (Padang Panjang dan Jika Suatu Pagi)
159. Sartika Sari, Medan (Sepanjang Padang Ingatan)
160. Surya Hardi, Pekanbaru (Tak Ingat Lagi)
161. Sujud Arismana, Pekanbaru (Perantau Senja Padang Panjang)
162. Saraswati, Karawang (Sebelum Rindu Tunai di Padang Panjang)
163. Shan Ufuk Timur, Palembang (Ratna)
164. Soeryadarman Isman, Banda Aceh (Merindui Kabut)
165. Syarif Hidayatullah, Jakarta (Padang Panjang Ladang Ingatan)
166. Selfina Maulany, Ambon (Dari Kanvas Langit Timur Kulukis Engkau)
167. Syarifuddin Aliza, Aceh Barat (Padang Panjang dalam Sungkupan Kabut)
168. Suyatri Yatri, Rokan Hulu (Kenangan Hutan Padang Panjang)
169. Tulus Wijanarko, Yogyakarta (Tambo Gadis Nan Siapo)
170. Tarmizi, Rumbai (Tentang Rindu Lembah dan Bukit Surungan)
171. T.M. Sum, Riau (Aku Menatap Lukisan)
172. Tadjudin Nur, Surabaya (Padang Panjang, Selamat Pagi)
173. Toto ST Radik, Banten (Menuju Padang Panjang)
174. Ulfatin Ch, Yogyakarta (Jalan Pulang)
175. Ubai Dillah Al Anshori, Pematang Siantar (Di Kota Hujan)
176. Uki Bayu Sedjati, Tangerang Selatan (Nagari)
177. Viddy Ad Daery, Lamongan (Kenangan Padang Panjang)
178. Vivi Astari, Limapuluh Kota (Rindu Pulang)
179. Wayan Jengki Sunarta, Denpasar (Di Padang Panjang Kau Menungguku)
180. Wicaksana Isa Nugraha, Surabaya (Deskripsi Rindu)
181. WS Winarso, Palembang (Di Padang (Penantian) Panjang)
182. Welly Suryandoko, Lamongan (Penari Hujan)
183. Wahidah Rahmadhani, Medan (Pulanglah ke Pelukan Padang Panjang)
184. Wirja Taufan, Padang (Mimpi Yang Ragu)
185. Willy Ana, Jakarta (Van Andalas)
186. Wibam, Tangerang Selatan (Membaca Darahmu)
187. Win Gemade, Aceh Tengah (Batipuh)
188. Win Ansar, Banda Aceh (Embun Pagi)
189. Wahyu Gandi G, Makassar (Genesis Kota Luar Mata)
190. Yana Risdiana, Bandung (Menuju Silek Lanyah)
191. Yulia Tasnim, Medan (Perihal Rindu yang Rusuh)
192. Yunisa Dwiranda, Padang (Kota dalam Diri)
193. Yeyen Kiram, Padang (Di Padang Panjang Aku Melipat Deta)
194. Yahya Andi Saputra, Jakarta (Hikayat Sang Jelita)
195. Yori Kayama, Bengkulu (Jalur Menepi)
196. Yum A.Z, Payakumbuh (Padang Panjang; Padang-Mu Begitu Panjang Membentang)
197. Yogi Andika Hendraliza, Sawahlunto (Rindu Nada)
198. Yoseph Yapi Taum, Flores (Jejak Pesona)
199. Zulfikar, Banda Aceh (Kembali Ke Kota Cinta)
200. Zuliana Ibrahim, Takengon (Rindu yang Tersesat)

Panitia mengucapkan selamat kepada 200 penyair Indonesia yang nama-namanya tersebut di atas dan secara resmi diundang mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara 2018 di Padang Panjang.

Panitia secara khusus juga mengundang 50 penyair Sumatera Barat dan 50 Penyair Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, Thailand dan Filipina) yang nama-namanya diumumkan terpisah.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang bersama Forum Pegiat Literasi (FPL) Padang Panjang mengucapkan terima kasih atas partisipasi penyair-penyair yang telah mengirim puisi. Terima kasih juga kepada Tim Kurator yang telah bekerja keras memilih puisi-puisi terbaik.

Semua pihak yang ikut mendukung dan menyukseskan kegiatan ini, panitia juga menyampaikan terima kasih.

Sumber: https://forumpegiatliterasipadangpanjang.wordpress.com/2018/03/25/200-puisi-lolos-kurasi-temu-penyair-asia-tenggara-2018/