Arsip Blog

Minggu, 20 Mei 2018

Raudah Jambak, Yudhistira ANM Massardi, dan Renny DJajoesman Nge-Rock Puisi

Penyair terkenal Yudhistira ANM Massardi menghadiri acara Pentas Puisi dan Rock di Lapangan Mahabento Universitas Pembangunan Panca Budi (Unpab), jalan Gatot Subroto Km 4,5 Medan, Rabu (2/4). Kegiatan ini digelar oleh Kumpulan Anak Seni dan Teater (KUAST) Unpab dan Himpunan Mahasiswa Lansekap (Himal) Unpab.

Turut hadir dalam kegiatan itu rocker senior Renny Djajoeman, Raudah Jambak, Gema Isyak, dan Ghandi Asta. Pentas Puisi dan Rock merupakan kolaborasi antara pembacaan puisi dan alunan musik rock baik dalam iringan maupun musikalisasi puisi.

Setelah menerima cenderamata berupa pelakat dan ulos dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unpab Sri Shindi Indira ST MSc, Yudhistira ANM Massardi membacakan 3 puisinya yang disunting dari bukunya berjudul “Luka Cinta Jakarta” di antaranya berjudul “Jakarta 22”.

Menurut Yudhistira, puisi “Jakarta 22” bisa digantikan menjadi “Medan 22” karena kondisinya yang hampir serupa.

Para hadirin yang terdiri dari siswa SMA Panca Budi dan mahasiswa Unpab tampak terpukau oleh pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh penyair kawakan ini.

Usai pembacaan puisi kemudian dilanjutkan musikalisasi puisi oleh Gema Isyak dan Gandhi. Dalam musikalisasi tersebut ada beberapa ayat Alquran yang dilantunkan. Salah satu kutipan kalimatnya yaitu “Terima Kasih Tuhan Atas Secarik Nafas yang Telah Engkau Berikan”. Tepuk tangan membahana pun mengakhiri musikalisasi puisi tersebut.

Yudhistira mengatakan, konsep pentas “Puisi Ngerock” bermula dari pentas puisinya di Solo. Di sana ia menyuruh sang anak yang juga gitaris dan vokalis grup Band Barasuara, Iga Massardi, untuk mencarikan musisi yang bisa memusikalisasi puisi karya-karya ciptaannya dengan nuansa rock yang gahar.

Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiwaan Unpab Adian Hakim Nasution SP menyampaikan terimakasih kepada Yudhistira ANM Massardi, Renny Djajoeman, Gema Isyak dan Ghandi Asta yang telah hadir di Unpab.

“Kehadiran para seniman kawakan ini di kampus Unpab merupakan kehormatan bagi kami di kampus ini,” kata Adian Hakim.

Bima Prasetia Wibowo, salah seorang mahaiswa Unpab menyampaikan, sangat menyukai penampilan puisi dalam iringan maupun musikalisasi puisi karena merupakan karya seni yang memadukan antara musik dan puisi.

TUGU SASTRA SIANTAR LAKSANAKAN TEMU PENYAIR 2018

Pematangsiantar, Kamis – Sabtu, 12-14 April 2018 sejarah baru dalam dunia sastra Indonesia terukir. Tepat pada hari tersebut terlaksana acara Temu Penyair Nusantara 2018 dengan tajuk Puisi Meretas Keberagaman dan Menolak Intoleransi.

Acara ini diinisiasi oleh dua orang penyair asal Pematangsiantar, yakni Itov Sakha dan Ubai Dillah Al Anshori dengan dibantu oleh adik-adik dari SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 5 Pematangsiantar, yang tergabung dalam komunitas Tugu Sastra Siantar.

Susunan acara dirancang sangat menarik dari hari pertama hingga selesai. Ditambah dengan kehadiran sastrawan nasional, Saut Situmorang menambah antusiasme para peserta semakin tinggi.

Para penyair yang hadir berasal dari berbagai daerah, antara lain Medan, yaitu M. Raudah Jambak, Yulhasni, Julaiha Sembiring, Yulia Tasnim, Fitria Panjang, Annisa Tri Sari, Titan Sadewo, Siti Maulidina, dan Dina Mariana; ada pula dari Takengon yaitu Zuliana Ibrahim; Karawang yaitu Rizki Andika; Cianjur yaitu Ihsan Subhan; Padangsidempuan yaitu Sunaryo JW; Pekanbaru/Riau yaitu Kunni Masrohanti dan Asqalani Nst.; Pasaman, Sumatera Barat yaitu Arbi Tanjung; Padang Panjang yaitu Sulaiman Juned; dan dari Pematangsiantar sendiri seperti Thomson Hs. dan lain-lain. Para penyair bermalam dan menginap di Pusat Koperasi Bekatigade.

Jalannya Acara

Hari pertama sekaligus pembukaan oleh Walikota Siantar, yang diwakili oleh Staf Ahli, berlangsung di Balai Kota, Aula Bappeda. Acara yang digelar adalah seminar mengenai proses kreatif penyair dalam menciptakan karyanya (dalam hal ini puisi). Pembicara seminar dibawakan oleh M. Raudah Jambak dan Kunni Masrohanti. Peserta yang hadir selain rekan-rekan penyair, adalah guru-guru dan siswa dari sekolah menengah atas kota Pematangsiantar.

Ubai Dillah Al Anshori, selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan dari acara ini bukan hanya sekadar silaturahmi para penyair dari berbagai kota di Pematangsiantar, melainkan juga untuk menghidupkan kesusatraan di kota itu sendiri. “Kita mengundang siswa-siswa SMA dari berbagai sekolah untuk turut serta menjadi peserta karena kita ingin sumber daya manusia di kota Pematangsiantar itu melek terhadap sastra, khususnya puisi. Langkah yang bisa kita mulai adalah dengan kegiatan ini,” ujarnya.

Selesai seminar, rangkaian acara dilanjutkan dengan wisata sejarah kota Pematangsiantar. Tempat yang dituju adalah Makam Raja Sang Naualuh Damanik dan Vihara Avalokitesvara.

Kemudian sekitar pukul empat sore rombongan penyair mengarah ke Kedai Kopi Kok Tong sembari bersantai menikmati kopi dan berbagi cerita seputar puisi.

Para Penyair Foto Bersama di Tugu Becak

Malam hari acara panggung apresiasi di Tugu Becak, yaitu ikon kota Pematangsiantar. Para penyair masing-masing membacakan puisinya. Panggung apresiasi ini juga diisi oleh seniman lokal kota Pematangsiantar seperti tarian, stand up comedy, dan musik etnik.

Para Pembicara dan Moderator Orasi Budaya

Hari kedua acara Orasi Budaya dengan pembicara Saut Situmorang dan Erizal Ginting digelar di Hotel Sapadia membahas eksistensi sastra Indonesia saat ini. Para peserta yang hadir tampak semakin banyak. Diskusi yang aktif menandakan geliat sastra di kota Pematangsiantar terpancing. Acara yang berlangsung selama tiga jam itu diselingi oleh pembacaan puisi dari para penyair maupun dari para siswa. Acara diakhiri dengan peluncuran Antologi Puisi Anggrainim, Tugu dan Rindu.

Para Penyair Foto Bersama dengan Buku Antologi Puisi Anggrainim, Tugu dan Rindu

Pertemuan dengan bapak Erizal Ginting tidak sebatas itu, malam harinya para penyair diundang untuk mengunjungi rumah beliau untuk melihat-lihat koleksi sepeda motor antiknya. Ia menamakan tempat itu adalah musem motor, sekretariat Bom’s (komunitas pecinta BSA).

Para Penyair Foto Bersama di Museum Motor Bapak Erizal Ginting

Hari ketiga yang menjadi penutup rangkaian acara yaitu para penyair berangkat ke Parapat, Danau Toba. Tiba di Parapat, para penyair disambut oleh pengurus Geopark Danau Toba, Corry Paroma Panjaitan. Sedikit banyak beliau menjelaskan asal usul terbentuknya Danau Toba dan peran Geopark dalam menjaga dan melestarikan Danau Toba.

Selanjutnya para penyair menuju tepi Danau Toba untuk kembali membacakan puisinya. Memang seperti itulah darah penyair, selalu ingin meneriakkan kata-kata, mengekspresikan rasa syukur melalui puisi. Tepat di bawah Pesanggrahan Bung Karno, para penyair bergantian membaca puisi.

Zuliana Ibrahim, Penyair Asal Takengon

Tidak sah rasanya jika belum menyatukan tubuh dengan dingin air Danau Toba. Setelah membaca puisi sebagian penyair menyerahkan tubuhnya ke hamparan danau indah yang berair hijau itu.

Acara ditutup ditandai dengan pengabadian momen, dengan doa-doa dan dengan harapan semoga tali rindu terus tersambung, ruang kenangan selalu ada mengisi batin agar langkah selalu mengarah pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Para Penyair Foto Bersama Berlatar Danau Toba