KESBANGLINMAS SUMATERA UTARA mempersembahkan, sebuah karya terkini anak bangsa yang mencintai seni dan budaya berjudul CINTA TANAH AIR.
ACARA INI DIDUKUNG OLEH :
- Tito Sinar Production
- SUMATRA INSIDENTAL MUSIK
- Sanggar Tari Citra Budaya
- JITU Production
- PADUAN SUARA UNIMED
- Komunitas Home Poetry
- Koreo Rahma
- Ilustrasi Musik Hendrik Peranginangin
- Naskah/Sutradara M. Raudah Jambak
SELAMAT MENYAKSIKAN..................
1. (ILUSTRASI/ rentetan senapan terdengar dimana-mana. Orang-orang berlarian. Ada yang terluka)
2. (Ilustrasi/ suasana tembakan senapan terhenti. Orang-orang sibuk menolong yang terluka)
3. (Ilustrasi/ orang-orang yang terluka ada dibantu palang merah wanita dan beberapa pejuang)
4. (Ilustrasi lagu BUTET/ ORANG-ORANG MASIH SALING TOLONG)
5. (SUARA PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI/ ILUSTRASI lagu Indonesia Tanah Air Beta+lagu Dari Sabang Sampai Merauke/ORANG-ORANG bergembira)
6. Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Penerapan pengaruh kebudayaan asing tanpa seleksi yang menyebabkan melemahnya daya cipta dan daya pembaharuan sehingga mengarah kepada pembentukan masyarakat konsumtif yang dapat menjurus ke arah erosi nilai-nilai luhur budaya bangsa harus dicegah dengan usaha pembinaan budaya bangsa. Pemikiran inovatif dan kreatif dari tokoh-tokoh nasional akan diabadikan dan disajikan kepada masyarakat secara memadai dan merata. Penanaman nilai-nilai budaya bangsa yang mempunyai nilai perjuangan bangsa akan diselenggarakan secara intensif untuk memupuk, memperkaya dan memberi corak kepada kebudayaan nasional.(TARI Zapin)
7. (ILUSTRASI MUSIK) Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Semua itu adalah kekayaan yang tak terkira harganya. Kita sebagai warga negara wajib memilihara keragaman budaya itu sebagai rasa cinta kita kepada tanah air. Dari sekian banyak keragaman budaya itu, Sumatera Utara termasuk salah satu diantaranya. Rasa syukur selalu dihadirkan lewat seni, melalui tari tradisi. Dan Sumatera utara sangat terkenal dengan seni tradisinya, tari tradisi yang sungguh sangat mahal harganya.........(TARI endeng-endeng)
8. (ILUSTRASI MUSIK-ADEGAN ORANG-ORANG BERTENGKAR DENGAN MENUNJUKAN KEHEBATANNYA DALAM MENARI ASING-MELAWAN PENARI TRADISI) Cintailah kebudayaan kita. Sebab manusia yang beradab adalah manusia yang mencintai kebudayaannya. Apa jadinya sebuah bangsa jika tidak mampu dan mau memahami kebudayaannya. (TARI 3)
9. (ILUSTRASI MUSIK-ORANG-ORANG TAWURAN-ORANG MELERAI TAWURAN-ORANG MENGUTIP SAMPAH-SEORANG IBU MENCARI ANAKNYA-PUISI)
SEBAB PAHLAWAN NAMAKU
Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan
Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku
Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku
Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku
Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku
Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,
Maka pahlawan namaku
10. (ILUSTRAS/ kerukunan beragama+puisi)
NAK
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, pahami semua
Mata pelajaran, jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
Manusia berakal budi-berhati mulia
Selalulah berdo’a, memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
11. (ILUSTRASI /tari pukat-jala)
12. (Ilustrasi/ lagu TANAH AIRKU INDONESIA)
13. (ILUSTRASI DILANJUTKAN DENGAN MEDLEY TARI-TARIAN) Nilai budaya Indonesia yang mencerminkan nilai luhur bangsa akan dibina, dikembangkan dan diterapkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila. Kesadaran bersejarah sebagai satu bangsa akan ditingkatkan untuk mendukung pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
14. (ILUSTRASI/LAGU-LAGU DITUTUP DENGAN LAGU BERJUDUL CINTA INDONESIA-NYA GURUH SOEKARNO PUTRA-SELURUH PEMAIN BERKUMPUL MEMBENTUK FORMASI AKHIR)
SELESAI
KOMUNITAS HOME POETRY, lahir di gang baru, 5 Januari 2007, yang lalu. Pada sebuah rumah mungil, yang kemudian kami sebut dengan rumah puisi. Awalnya, hanya sebuah kerja penciptaan karya puisi, diskusi pun mengulasnya. Tidak mengenal lelah dan resah. Terkadang kami tembus ruang dan waktu. paGi ke pagi. Ah, di rumahnya Kami, RUMAH PUISI
Arsip Blog
- Mei (9)
- Maret (1)
- Desember (3)
- November (2)
- April (1)
- April (1)
- Maret (19)
- Februari (2)
- Juli (3)
- Oktober (5)
- Januari (2)
- September (1)
- Agustus (1)
- Juni (3)
- April (2)
- Desember (3)
- Juni (1)
- Mei (1)
- Maret (2)
- Februari (2)
- Januari (1)
- Desember (1)
- Agustus (5)
- Juli (5)
- April (1)
- Maret (2)
- Februari (1)
- November (7)
- Juli (1)
- Juli (4)
- Juni (3)
- Mei (16)
- April (9)
- Maret (26)
- Februari (14)
Rabu, 07 Juli 2010
Jumat, 30 April 2010
Even Komunitas HP
PEMENTASAN PUISI
“KEPALA ATAU EKOR”
Karya : Djamal
Naskah : Ahmad Badren Siregar
Komunitas Home Poetry
SINOPSIS:
1. Tentang Puisi:
Puisi Kepala Dan Ekor ini bertemakan pertentangan garis kehidupan antara kaum-kaum birokrat dengan rakyat kecil. Pertentangangan yang dimaksud adalah pertentangan garis kehidupan ekonomi, hak hidup “orang kecil” dengan kesewenag-wenangan dan hak hidup lebih, yang selalu dimenangkan atau dibuat berpihak pada pihak penguasa/birokrat ketimbang rakyat jelata yang selalu tertindas. Puisi ini mengankat kenyataan rialita yang satir namun memilukan antara dua kondisi yang timpang dengan konsep percakapan antara kepala dan ekor. Percakapan tersebut membeberkan perasaan dan argumen dari dua pihak tersebut.
2. Tentang penggarapan:
Puisi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam garapan dengan konsep yang juga dibuat satir. Pada tahap awal dibuka dengan tampilan slide yang menggambarkan realita kejadian yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Mulai dari kerusuhan hingga kelaparan. Mulai dari kasus korupsi hingga kehidupan jalanan.
Kemudian disambung dengan bunyi dentum dan denting koin-koin yang berjatuhan secara tak beraturan secara berulang-ulang. Disambut dengan tarian. Sang penari membawa sebuah kepala yang telah dibentuk dan sebuah ekor. Penari tersebut memainkannya seperti sebuah wayang hilir mudik di atas panggung dengan iringan musik dan denting koin secara berselingan.Tujuannya untuk menunjukkan pertentangan yang tidak seimbang antara pihak ekor dan kepala.
Di tengah panggung telah terhampar sebuah siluet. Ketika penari selesai dengan adegannya, panggung yang senyap yiributkan oleh bunyi koin-koin yang teratur. Siluet yang diterangi menunjukkan dua sosok bayangan yang melambangkan pihak kepala dan ekor yang sedang bermain judi Tuok. Latar judi tuok ini dimaksudkan sebagai perlambangan hidup yang tak ubah seperti perjudian. Orang-orang memilih dua bagian, kepala atau ekor. Namun dari niat yang ditampilkan puisi, perjudian tuok ini selalu dimenangkan oleh satu pihak yang memilih kepala.
Dalam perjalanan adegan tersebut, tiap adegan puisi dieksplorasi dengan gerak dan gerakan tuok yang pada akhirnya menunjukkan keculasan pihak kepala dan rasa dendam pihak ekor. Dan pada penutup adegan pihak ekor mengetahui kecurangan dari pihak kepala dalam permainan judi tersebut. Permainanpun diulang.
Antara adegan tuok dan pembacaan puisi tersebut, denting koin dan musik lainnya menjadi pengiring. Sesekali sang penari masuk ke tengah panggung bereksplorasi menerjemahkan keadaan.
Pada bagian penutup, setelah pembacaan puisi, dibuat musik yang tak beraturan dari bunyi koin dan alat musik lainnya. Slide dibiarkan hidup di bagian tengah memutar foto relita yang ada dengan cukup cepat. Lalu penari masuk dengan tarian, mengeksplorasi panggung dangan tarian tari yang menggunakan simbol kepala dan ekor.
Musik berhenti dan lampu padam.
Medan, 2010
Tentang Komunitas HP
Komunitas Hp lahir di Gang Baru 5 Januari 2007, yang lalu. Pada sebuah rumah mungil, yang kemudian kami sebut dengan Rumah Puisi. Awalnya, hanya sebuah kerja penciptaan karya puisi, diskusi pun mengulasnya. Tidak mengenal lelah dan resah. Terkadang kami tembus ruang dan waktu. Sesekali canda terlahir, dari sebuah bunyi HP ketika proses penciptaan itu. Cinta hadir melalui HP yang berdering. Satu per satu mengambil posisi, sambil tetap melahirkan puisi dari kehamilan yang mungkin masih terbilang prematur. Lalu, bersama kami ulas dan bahas kembali. Anak-anak muda seperti kami masih terlalu bergairah menggumuli puisi dari malam sampai ke pagi. Ah, di rumahnya rekan kami M. Raudah Jambak bersama Pusriza, Djamal, Arif SM, S. Ratman Suras, dan kemudian seorang lelaki yang mungkin tak pernah mengenal lelah. Teruji terjangan ombak dan hempasan gelombang kemiste-riusannya, Afrion "Medan". Lalu mungkin dengan ketergugahannya M. Yunus Rangkuti ikut tampil dan hadir dengan segala keresahan dan kelelahan batinnya. menggelegak ingin melahirkan karya puisi bertubi-tubi. Dan selanjutnya Afrion sebagai pembuka ladang menjadi lapang. Salam
Even Komunitas HP
1. Mengikuti Temu Sastrawan I di Jambi (2007)
2. Memainkan 3 Judul Sinetron di TVRI Sumut (2009)
3. Baca Puisi 3 Penyair Sumut di Taman Budaya Sumut (2008)
4. Melaksanakan pelatihan Penulisan Puisi (2007)
5. Monolog “Teror” di Taman Budaya Sumut (2008)
6. Mengikuti Festival Film Pendek “Mencari Titik” (2009)
7. Melaksanakan Lomba Baca Puisi se-Sumatera Utara (2010)
8. Menerbitkan Buku Antologi Puisi “6 Penyair Urban” (2007)
9. Menerbitkan Buku Antologi Puisi “Laut Air Mata” (2008)
10. Melaksanakan Grafiti Contes (2008)
11. Lomba Baca Puisi Tingkat Pelajar se- Sumatera Utara (2009)
12. Diskusi Berkala
13. Pelatihan Cerita Anak Untuk Guru TK, SD se – Sumatera Utara (2010)
14. Kegiatan Partisipasi dan Kerjasama dengan kelompok lain
“KEPALA ATAU EKOR”
Karya : Djamal
Naskah : Ahmad Badren Siregar
Komunitas Home Poetry
SINOPSIS:
1. Tentang Puisi:
Puisi Kepala Dan Ekor ini bertemakan pertentangan garis kehidupan antara kaum-kaum birokrat dengan rakyat kecil. Pertentangangan yang dimaksud adalah pertentangan garis kehidupan ekonomi, hak hidup “orang kecil” dengan kesewenag-wenangan dan hak hidup lebih, yang selalu dimenangkan atau dibuat berpihak pada pihak penguasa/birokrat ketimbang rakyat jelata yang selalu tertindas. Puisi ini mengankat kenyataan rialita yang satir namun memilukan antara dua kondisi yang timpang dengan konsep percakapan antara kepala dan ekor. Percakapan tersebut membeberkan perasaan dan argumen dari dua pihak tersebut.
2. Tentang penggarapan:
Puisi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam garapan dengan konsep yang juga dibuat satir. Pada tahap awal dibuka dengan tampilan slide yang menggambarkan realita kejadian yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Mulai dari kerusuhan hingga kelaparan. Mulai dari kasus korupsi hingga kehidupan jalanan.
Kemudian disambung dengan bunyi dentum dan denting koin-koin yang berjatuhan secara tak beraturan secara berulang-ulang. Disambut dengan tarian. Sang penari membawa sebuah kepala yang telah dibentuk dan sebuah ekor. Penari tersebut memainkannya seperti sebuah wayang hilir mudik di atas panggung dengan iringan musik dan denting koin secara berselingan.Tujuannya untuk menunjukkan pertentangan yang tidak seimbang antara pihak ekor dan kepala.
Di tengah panggung telah terhampar sebuah siluet. Ketika penari selesai dengan adegannya, panggung yang senyap yiributkan oleh bunyi koin-koin yang teratur. Siluet yang diterangi menunjukkan dua sosok bayangan yang melambangkan pihak kepala dan ekor yang sedang bermain judi Tuok. Latar judi tuok ini dimaksudkan sebagai perlambangan hidup yang tak ubah seperti perjudian. Orang-orang memilih dua bagian, kepala atau ekor. Namun dari niat yang ditampilkan puisi, perjudian tuok ini selalu dimenangkan oleh satu pihak yang memilih kepala.
Dalam perjalanan adegan tersebut, tiap adegan puisi dieksplorasi dengan gerak dan gerakan tuok yang pada akhirnya menunjukkan keculasan pihak kepala dan rasa dendam pihak ekor. Dan pada penutup adegan pihak ekor mengetahui kecurangan dari pihak kepala dalam permainan judi tersebut. Permainanpun diulang.
Antara adegan tuok dan pembacaan puisi tersebut, denting koin dan musik lainnya menjadi pengiring. Sesekali sang penari masuk ke tengah panggung bereksplorasi menerjemahkan keadaan.
Pada bagian penutup, setelah pembacaan puisi, dibuat musik yang tak beraturan dari bunyi koin dan alat musik lainnya. Slide dibiarkan hidup di bagian tengah memutar foto relita yang ada dengan cukup cepat. Lalu penari masuk dengan tarian, mengeksplorasi panggung dangan tarian tari yang menggunakan simbol kepala dan ekor.
Musik berhenti dan lampu padam.
Medan, 2010
Tentang Komunitas HP
Komunitas Hp lahir di Gang Baru 5 Januari 2007, yang lalu. Pada sebuah rumah mungil, yang kemudian kami sebut dengan Rumah Puisi. Awalnya, hanya sebuah kerja penciptaan karya puisi, diskusi pun mengulasnya. Tidak mengenal lelah dan resah. Terkadang kami tembus ruang dan waktu. Sesekali canda terlahir, dari sebuah bunyi HP ketika proses penciptaan itu. Cinta hadir melalui HP yang berdering. Satu per satu mengambil posisi, sambil tetap melahirkan puisi dari kehamilan yang mungkin masih terbilang prematur. Lalu, bersama kami ulas dan bahas kembali. Anak-anak muda seperti kami masih terlalu bergairah menggumuli puisi dari malam sampai ke pagi. Ah, di rumahnya rekan kami M. Raudah Jambak bersama Pusriza, Djamal, Arif SM, S. Ratman Suras, dan kemudian seorang lelaki yang mungkin tak pernah mengenal lelah. Teruji terjangan ombak dan hempasan gelombang kemiste-riusannya, Afrion "Medan". Lalu mungkin dengan ketergugahannya M. Yunus Rangkuti ikut tampil dan hadir dengan segala keresahan dan kelelahan batinnya. menggelegak ingin melahirkan karya puisi bertubi-tubi. Dan selanjutnya Afrion sebagai pembuka ladang menjadi lapang. Salam
Even Komunitas HP
1. Mengikuti Temu Sastrawan I di Jambi (2007)
2. Memainkan 3 Judul Sinetron di TVRI Sumut (2009)
3. Baca Puisi 3 Penyair Sumut di Taman Budaya Sumut (2008)
4. Melaksanakan pelatihan Penulisan Puisi (2007)
5. Monolog “Teror” di Taman Budaya Sumut (2008)
6. Mengikuti Festival Film Pendek “Mencari Titik” (2009)
7. Melaksanakan Lomba Baca Puisi se-Sumatera Utara (2010)
8. Menerbitkan Buku Antologi Puisi “6 Penyair Urban” (2007)
9. Menerbitkan Buku Antologi Puisi “Laut Air Mata” (2008)
10. Melaksanakan Grafiti Contes (2008)
11. Lomba Baca Puisi Tingkat Pelajar se- Sumatera Utara (2009)
12. Diskusi Berkala
13. Pelatihan Cerita Anak Untuk Guru TK, SD se – Sumatera Utara (2010)
14. Kegiatan Partisipasi dan Kerjasama dengan kelompok lain
Langganan:
Postingan (Atom)