Arsip Blog

Rabu, 09 April 2008

Legam Berserakan

Puisi Djamal

Di Bibir Rindu


Sampai kapan kita duduk di bibir rindu
kian lama memendam sunyi

seonggok senyum telah kita rajut
bersama mimpi tak pernah terwujud

Medan, 2008

Masih Ada Keindahan Indonesia
Terinspirasi dari foto Herman Tobing

Dalam ruang ini aku selalu bersimpuh
tanpa setitik cahaya
hanya kegelapan menyelimuti hari-hariku
amisnya kotoran kelelawar
tak pernah kurasakan
pesing kencing membius hidung

Indah kurasakan ruang ini
sebab masih teraba olehku
ornamen-ornamen kotoran
yang membentuk mestika

aku terkesima
metitiskan air mata
hingga muntah darah

Ah, masih ada, alamku yang indah,
tanpa pernah dijamah?
hingga ia sempat
membangbangun pilar mestika

Oh, indah masih kurasa
“Indonesia tanah air kita”

Medan, 2008




Legam Berserakan

Masih terlihat aura wajahku di cermin
Pecah

Rindu aku,
pada suci air mengalir
tak singgah di muara wajah

Rindu padaMu

Medan, 2008

Jumat, 04 April 2008

Demonstrasi Warga Piring

Demonstrasi Warga Piring



sebutir nasi dalam makan siangku

memakiku ganas

aku tak terkejut

ini yang kelima dalam selasa ini

:menanyakan nasibnya

aku jadi sebal dibuatnya

bukan lantaran makiannya,

tapi provokasinya terhadap penghuni piring

tongkol, tahu, dan labusiam ikut-ikutan memaki

bahkan kuah kari berlagak pandai di depan hidungku



“makilah aku, dan kalian mati”,

aku tak mau kalah

“kukunyah dan kuhancurkan kalian

dengan gigigigiku yang terkenal bengis

kulelap ke dalam kerongkongan

dan kupenjara dalam perutku yang rakus berhari-hari”,

sambungku mengumpat

“gelaplah kalian, matilah tarian!”



sebutir nasi tetap memaki

dibarengi orkestra lauk pauk dengan tatapan sinis

mereka makin keras teriak

setelah garpu di tangan kiriku jatuh ke kolong meja

dan tak bisa diambil

sendok menjadi pengecut setelah sendiri

ia tersenyum menatap makian

aku dipojokkan

aku diadili



sebutir nasi yang terpulen berhardik keras

kali ini,

“keluarkan pernyataan terhadap nasib kami!”

susul tahu tak mau ketinggalan:

“ya! setelah kami hilang ditelan waktu,

kehidupan yang baru harus bernyanyi dengan merdeka!”

seisi penghuni piring makin riuh

mereka membikin tarian ombak di lautan ricuh

mengacung-acungkan kepal ke mukaku



jurus diplomatis kuperaga,

“kita lihat besok apa yang kukeluarkan,

di jamban”



seisi piring senyap

sebutir nasi bersembunyi di bawah labusiam

dimakan angin mereka





4 april’07 yang baru

kos raflesia, karawaci